Kesaksian
Muhammad Bin Abdulla (Sekarang Aku Berpedoman)
Ternyata mudah
bagiku. Sekarang aku heran kenapa begitu mudah bagiku untuk mencapai hal itu
yang bagi orang lain sangat sukar dicapai. Sepertinya bagi mereka meninggalkan
agama sendiri adalah tindakan bunuh diri. Tampaknya meninggalkan agama membuat
mereka jadi anak yatim piatu secara psikologis, dan terbuang karena dibenci dan
dicampakkan oleh sanak saudara, teman-teman, masyarakat, tempat kerja, dll.
Tapi sebenarnya, sebelum aku meninggalkannya, Islam memenuhi kebutuhanku. Suatu
saat dalam hidup, kita merasa kalah, ditinggalkan, tanpa harapan, dan putus
asa. Aku akui pada saat susah itulah orang harus punya tempat berlindung,
tempat untuk memohon tanpa rasa malu. Agama berperan besar sekali untuk mengisi
kekosongan mental di saat sukar. Agama itu bagi saya dulu adalah Islam.
Tapi sekarang
tidak lagi. Prosesnya seperti metamorfosa yang lama, teratur, dan masuk akal,
dari perbudakan hina di penjara ke kemerdekaan yang cemerlang, yang bisa
bertahan dari segala ancaman, godaan, keserakahan, atau ketakutan. Aku anggap
ini sebagai prestasi terbesar dalam hidupku. Untungnya, ini tidak timbul dari
trauma pribadi yang bisa mengaburkan pandanganku. Ketidakpercayaanku pada Islam
muncul dari sumber-sumber yang dapat dipercaya seperti pengalaman hidupku,
belajar tahunan tentang Qur’an, Shahih Bukhari, biografi sang Nabi, dan sejarah
Muslim yang ditulis oleh para ahli Muslim. Apakah engkau ingin punya perjalanan yang
luarbiasa dan penuh warna ke dalam imanmu sendiri? Ikutilah aku, engkau akan
terpukau dengan kejutan, rasa sakit, tidak percaya, dan pada akhirnya
kemerdekaan. Engkau tidak perlu jadi ilmuwan terkemuka atau terpelajar; hanya
dibutuhkan sedikit akal sehat untuk menunjukkan padamu kebenaran yang
sebenarnya berlawanan dengan yang telah ditunjukkan padamu dan diajarkan padamu
sejak masih kecil, jika engkau seorang Muslim.
Aku mendengar
tentang Tentara yang bersenjata lengkap yang tanpa pandang bulu membunuh jutaan
penduduk sipil dan memperkosa dua ratus ribu perempuan. Aku dengar sekitar
delapan juta orang yang terusir dari tempat tinggalnya berjalan dengan kaki
telanjang untuk mengungsi ke negara tetangga. Lembaga Kepemimpinan Islam
mendukung para tentara penyerang ini dalam menangkap dan membunuh
pejuang-pejuang dan orang-orang non-Muslim yang ingin merdeka, dan memperkosa
para wanita dalam skala raksasa. Setiap mesjid yang berjumlah ribuan menjadi
bangunan ideologi yang melambangkan pembunuhan dan pemerkosaan masal. Dan para
pembunuh dan pemerkosa ini adalah orang-orang yang berasal dari daerah yang
sama dengan para pejuang kemerdekaan dan para wanita yang diperkosa itu.
Penduduk sipil dan pejuang yang dibantai itu adalah orang-orang Bangladesh dan
para tentara yang membunuh dan memperkosa itu adalah tentara Pakistan dan ini
terjadi di tahun 1971. Semua negara-negara dan masyarakat Muslim di seluruh
dunia diam saja dan memihak pembunuhan dan pemerkosaan di dalam nama Islam.
Pesannya sudah jelas. Ada sesuatu yang sangat salah, baik pada seluruh Pemimpin
Islam atau pada agama Islam itu sendiri. Mengapa satu dari beberapa ribu
pemimpin-pemimpin Islam selalu menjadi pembunuh dan pendukung para pembunuh? Buku-buku menerimaku dengan tangan terbuka.
Aku keranjingan mempelajari Qur’an, Shahih Bukhari, Sejarah Islam, Riwayat
Hidup Sang Nabi, Syariah (Hukum Islam) dari berbagai sekte, dan beratus-ratus
buku Islam. Buku-buku, Internet, percakapan dalam kelompok, kuliah-kuliah
Islami, kaset dan video rekaman memenuhi ruang belajarku.
Bumi diam-diam
tetap berputar mengelilingi matahari. Hidupku pelan-pelan berubah jungkirbalik,
keyakinan dan kebenaran imanku mulai berputar menyakitkan dalam kandungan
waktu. Semua hobiku mundur dan melihat dengan penuh rasa ingin tahu dari jarak
tertentu. Tatkala semua informasi ini saling terjalin, aku mulai menulis di
media dan mengalami interaksi dengan berbagai jenis manusia. Beberapa memujiku,
yang lain ingin tahu. Beberapa ingin memasakku hidup-hidup. Aku waspada agar
semua pujian dan kebencian padaku tidak mempengaruhi pandanganku. Puluhan tahun
berlalu, sebuah pintu kebenaran yang misterius pelan-pelan mulai terbuka.
Cahaya indah ke luar dari pintu itu. Semua hal jadi jelas, dan aku terpesona.
Iya, memang benar! Semua 1,3 milyard orang Muslim itu salah. Mereka terjebak
dalam khayalan utopia, istana impian yang romantis dan indah yang bernama
Islam. Mereka semua itu salah, sama seperti semua orang di dunia salah waktu
mengira dunia itu datar. Istana Muslim yang indah mengapung di udara tanpa
disangga oleh pilar-pilar kebenaran. Mereka tidak tahu akan hal itu. Mereka
tidak mau tahu, mereka tidak akan pernah tahu. Kala kebanyakan Muslim hidup
damai, Islam menyediakan ladang pembibitan yang sempurna bagi beberapa
Maulana-maulana pembunuh yang dapat muncul setiap waktu. Mereka mendapat
kekuatan hidup dari perintah-perintah kejam di Qur’an dan kehidupan Nabi. Dan
obsesi tentang iman yang dipelihara para Muslim yang hidup damai justru
memperkuat pertumbuhan orang-orang Islam pembunuh. Para Muslim diajar untuk
percaya setiap huruf di Qur’an secara membuta dan memelihara kalimat-kalimat
dan kata-kata di Qur’an/Hadis bahkan dengan bayaran nyawa manusia dari kelompok
lain, orang lain, dan non-Muslim. Kegiatan belajarku yang seksama terus
berlanjut. Dalam riwayat hidup Muhammad, Shahih Bukhari dan sejarah Islam,
kutemukan kekejaman luarbiasa dari Sang Nabi.
Aku melihat
kepemimpinannya yang hebat, kebaikan, dan sifat pemaafnya di kasus-kasus
penyiksaan pribadi terhadap dirinya hanya di hari-hari awal Islam. Dan hanya
bagian inilah yang diceritakan pada para Muslim, dan bukan kekejamannya di
tahun-tahun berikutnya. Di awal periode Islam, pengabdian dirinya mengagumkan.
Tatkala uang dan wanita ditawarkan pada dirinya agar ia berhenti mengajar
Islam, ia berkata, “Bahkan jika aku diberi matahari di satu tangan dan bulan di
tangan lainnya, aku tetap tidak akan berhenti berkhotbah.”.
- Dan lalu aku melihat Nabi yang sama ikut
membantai suku-suku non-Muslim, menjual budak-budak dari segala usia, laki dan
perempuan, anak-anak, tua dan muda. - Aku
melihat ia mengajar pengikutnya untuk membunuh orang lain dengan dasar iman,
meniduri budak-budak wanitanya, mengawini anak kecil, nafsu berahinya (yang
dengan jelas diungkapkan di buku-buku Islam) pada menantunya (istri dari anak angkatnya),
merampas harta non-Muslim dan mengambil perempuan-perempuan yang paling cantik,
berhubungan sex dengan para wanita tawanan yang para suami dan ayahnya baru
beberapa hari yang lalu dibunuh.
- Lalu aku melihat kekejamannya yang luar
biasa untuk mendirikan Islam, potong tangan/kaki dan menusukkan paku panas pada
mata tawanannya sebelum akhirnya membunuhnya, mengutuki non-Muslim, membakar
kebun buah mereka, menghancurkan patung-potong mereka.
- Aku melihat ia membunuh musuhnya kala
mereka tidur, mengizinkan berbohong pada rekannya untuk membunuh musuh,
permainan politiknya yang penuh tipuan di Khandak, menghipnotis pengikutnya
untuk membunuh, bahkan ayah-ayah, kakak-adik, dan keluarganya sendiri yang
non-Muslim. Ini semua ditulis di buku-buku Islam termasuk Shahih Bukhari, yang
terus kupelajari.
- Tentu saja aku juga melihat ia mendirikan
hak-hak para wanita yang tadinya tidak ada, tapi lagi-lagi ini dilakukannya
dengan menetapkan hukum-hukum yang kejam dan menghina status para wanita yang
sama itu pula. Meskipun begitu, ia tetap tampak sebagai “Yang pengampun pada
seluruh dunia” di mata pengikut-pengikutnya yang terkelabui. Tidak dapat
disangkal bahwa dari padang pasir dalam jangka waktu 1.500 tahun, ia tetap
dianggap sebagai “Orang yang Paling Berpengaruh”( tapi bukan pengaruh baik).
- Aku menemukan suatu kenyataan dalam
segala kekacauan di Qur’an/Hadith. Qur’an tidak berisi satupun ajaran kebajikan
yang tidak terdapat sebelum Islam. Manusia tidak akan kehilangan satu pun nilai
moral jika Islam tidak ada esok hari. Mengatakan hal-hal yang baik itu mudah.
Semua kata-kata baik di Qur’an bisa dikatakan oleh siapapun yang punya hati
nurani, bahkan seorang atheis sekalipun. Qur’an mengungkapkan banyak porsi yang
ditujukan untuk membolehkan melakukan kekerasan pada non-Muslim dan orang
Yahudi. Tidak ada yang dapat dikatakan sebagai “salah pengertian” di sini. Kamu
tidak bisa salah mengerti arti kata “membunuh” (killing) jadi
“mencium”(kissing) atau sebaliknya.
- Orang-orang Muslim tidak salah mengerti waktu
membaca pemukulan pada istri, menikahi 4 istri, menceraikan istri sesukanya
tanpa alasan jelas atau penjelasan pada siapapun, meniduri sebanyak mungkin
budak-budak perempuan, berdagang budak, “membersihkan” Semenanjung Arab dari
penganut kepercayaan lain, wanita hanya dapat ½ warisan, wanita kurang berharga
sebagai saksi di pengadilan, hukum-hukum yang menindas non-Muslim.
- Omar tidak salah mengerti waktu ia
menuruti satu dari tiga perintah Nabi yang terakhir dengan “membersihkan” gurun
Arab dari orang-orang non Muslim. Bukankah kita juga masih melihat
“nilai-nilai” Islam ini di hukum-hukum negara-negara Islam seperti Nigeria,
Pakistan, Afghanistan? Tidak seperti agama-agama lain, Islam mengontrol orang
Muslim di setiap detik di setiap kegiatannya, termasuk menggunakan kaki kiri
untuk ke luar dan kaki kanan untuk masuk ke dalam rumah. Ini juga mendorong
bahaya kekuatan Muslim untuk membentuk negara Islam, bahkan jika itu harus
dilaksanakan dengan menggunakan kekerasan dan pembunuhan orang-orang non-Muslim.
Qur’an juga tidak punya kronologi (urutan tulisan/keterangan yang jelas).
86.000 tulisan dikumpulkan, dibagi, dicampur aduk dengan cara yang sangat
kacau. Untuk setiap topik, orang harus membaca loncat-loncat di seluruh Qur’an
hanya untuk menemukan satu kalimat di sini dan yang lain di sana. Aturan-aturan
dan hukum-hukum yang sangat penting dibiarkan tidak jelas dan secara riskan
dibiarkan saja terbuka (multitafsir-multiintepretsi) untuk dimengerti dan
diterapkan orang-orang dari berbagai kalangan dan moral. Tidak ada kesesuaian
dari perintah satu dengan yang lain untuk masalah yang sama. Topik tulisan
tiba-tiba berubah dari Kutub Utara ke Kutub Selatan di kalimat berikutnya.
Bencana-bencana alam digunakan sebagai ancaman-ancaman. Tujuan Qur’an untuk menjebak
orang dengan menakut-nakutinya tampak jelas. Usaha untuk menarik orang dengan
“umpan“murahan” seperti sex dengan para wanita cantik (bidadari) di surga
tampak nyata. Kelakuan ini semua tidak sesuai dengan agama illahi yang suci,
agung dan terhormat. Islam juga sangat sensitif dan sekaligus sangat terpikat
pada sex. Penjabaran di Qur’an tentang sex terasa berlebihan dan terlalu aktif.
Lelaki diperbolehkan meniduri budak-budak wanitanya tanpa menikahi mereka, tapi
berhubungan sex selain dengan istri-istri dan budak-budak wanita, juga bahkan
diantara dua orang dewasa sekalipun, dianggap sebagai dosa atau pelanggaran
yang paling, mungkin yang PALING, berat di surga dan bumi. Islam sepertinya
berpendapat bahwa semua orang laki di dunia akan loncat dan mencoba meniduri
wanita manapun kalau ada kesempatan. - Untuk “melindungi” manusia dari
“pelanggaran seksual”, Islam tidak bertindak lebih bijaksana daripada sekedar
memaksa para wanita menutupi tubuhnya dan memisahkan mereka. Pendidikan moral
dengan hukuman/undang-undang tidak diutamakan sebagaimana harusnya. Ini
menghina para pria yang bermoral dan berakhlak. Semua perlakuan terhadap sex
ditujukan secara serius dan jelas buat pria untuk melawan kaum wanita.
- Qur’an tidak memandang malapetaka
kriminal seperti pemusnahan ras (genocide) dan pemerkosaan masal sebagai
kejahatan yang lebih serius daripada “pelanggaran seksual.” Konsep dan cara
menangani berbagai bentuk kejahatan dalam Qur’an sangatlah miskin dan terbatas
pada daerah Timur Tengah saja. - Pandangan Qur’an tentang mencuri tidak
melampaui batas waktu dan tempat asalnya tanpa pengertian betapa luas,
kompleks, dan terselubungnya tindakan mencuri itu dapat terjadi. Hanya ada satu
macam saja hukuman untuk mencuri, yakni “potong tangan pencuri”. Qur’an menjanjikan
makanan untuk setiap orang tapi jutaan orang mati kelaparan dalam ribuan tahun
terakhir ini. Qur’an mengumumkan belas kasihan pada pengikutnya tapi tidak
dapat menyelamatkan ratusan jemaah haji yang mati terbakar sewaktu naik haji.
Qur’an bahkan tidak dapat menyelamatkan pengikutnya dari aliran pengikut Islam
yang lain seperti yang terjadi antara pembunuhan Shia versus Sunni dan/atau
Ahmadiah.
- Dan setelah itu Islam mengumumkan untuk
mengerjai non-Muslim. - Dalam Islam, manusia dianggap sebagai keping-keping
uang untuk membeli rasa senang Tuhan, seperti memerdekakan para budak untuk
“membersihkan” diri dari dosa-dosa. Orang-orang kaya memilih untuk bisa
memerdekakan budak-budak dan menjalankan ibadah haji. Kaum manusia dianggap
sebagai musuh Tuhan. Meteor-meteor terbakar di langit dianggap sebagai
panah-panah untuk setan. Para jin disebut suka naik ke angkasa untuk mendengar
gosip para malaikat. Nabi Musa diceritakan lari telanjang di jalan yang ramai.
Monyet-monyet dirajam karena melakukan perzinahan. Setelah “tenggelam”,
matahari digambarkan menyembah Tuhan untuk minta izin terbit di keesokan
harinya. Bayi-bayi yang baru lahir katanya menangis karena dicubit setan.
Menguap dianggap sebagai sesuatu yang tidak disukai Tuhan. Tidak satupun hal
dalam Qur’an yang melampaui daerah Arab. Semua nabi-nabi dan tokoh-tokoh,
masalah-masalah dan pemecahannya, harapan-harapan dan inspirasi-inspirasi,
sebab dan akibat, hanya berputar di sekitar Timur Tengah kuno belaka. Tidak
seorang pun nabi atau tokoh Islam dan Qur’an melampaui daerah Timur Tengah,
sama seperti semua dewa-dewa Hindu berasal dari India. Setelah mempelajari
Qur’an, Hadith, riwayat hidup sang Nabi, dan sejarah Islam selama
bertahun-tahun dengan pikiran yang terbuka, aku menghubungkan waktu lampau dan
waktu masa kini. Orang-orang mencoba untuk memperbaharui Islam. Tidak pernah
berhasil. Lagi-lagi dan sekali lagi Islam digadaikan dalam tangan kekuasaan
pemerintahan yang bengis, sedangkan dunia Muslim yang lain hanya bilang,”Itu
bukan Muslim yang sebenarnya”. Sungguh sangat berbahaya bagi umat manusia bahwa
tidak ada sesuatu pun yang dapat diperbuat untuk menghentikan Islam melahirkan
pembunuh-pembunuh (teroris) kejam dari waktu ke waktu. Ini karena banyaknya
perbuatan sang Nabi dan perintah-perintah Qur’an yang terus hidup menjadi lahan
yang subur untuk membuahkan para pembunuh. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di
Palestina, Chechnya, Bosnia, Kashmir, Indonesia, Mesir, Pakistan, dan
Bangladesh. Bencana 11 September (9/11) menggemparkan seluruh dunia. Kuduga
keputusan para pemimpin dunia Islam akan terbelah antara mendukung dan mengecam
Bin Laden tergantung dari letak geografis negaranya. Dan ternyata dugaanku
benar! Kebanyakan pemimpin Islam di Amerika Utara dan Eropa secara “Islami”
mengutuk kekejaman pembunuhan ribuan orang oleh Bin Laden. Dan pemimpin Islam
yang di Pakistan, Inggris, dan negara-negara Islam lain secara “Islami”
mendukungnya sebagai seorang pahlawan. Sekali lagi dualisme sifat Islam tampak
nyata. Islam punya dua pasang gigi seperti gajah. Satu pasang adalah gadingnya,
yang membuatnya tampak anggun dan megah. Satu pasang gigi yang lain tersembunyi
di dalam rahangnya dan itu digunakan untuk melumat dan menggerus. Semua
kata-kata manis penuh damai di dalam Islam berhubungan dengan waktu dan tempat
di mana Islam masih lemah di awal-awal tahunnya. Tapi di kala dan di mana
Muslim jadi kuat di zaman dulu atau sekarang, mereka akan mengeluarkan
hukum-hukum dan aturan-aturan yang kejam. KATAKAN KENAPA BENDERA-BENDERA
KEBANGSAAN KEBANYAKAN NEGARA-NEGARA ISLAM ADA PEDANGNYA? Pedang itu bukan untuk
memotong roti, tapi untuk membunuh. DENGAN KEMUNAFIKAN DAN TIPU DAYA PENUH
NASEHAT MANIS DAN HUKUM YANG KEJAM, QUR’AN SECARA MEYAKINKAN SUDAH JADI BUKU
YANG PALING BERBAHAYA UNTUK UMAT MANUSIA. Populasi raksasa kaum Muslim di dunia
ketiga frustrasi dengan berbagai kegagalan sosial-ekonomi-politik. Kepemimpinan
Islami tidak mempedulikan pemecahan apapun bagi masalah-masalah modern tentang
ekonomi internasional, politik nasional dan internasional, sosiologi, dll.
Hanya sekitar seabad yang lalu para pemimpin islam mulai menghubungkan
kegagalan mereka dengan iman mereka. Mereka tadinya hanya tahu tentang Qur’an
dan Hadith. Qur’an dan Hadith memuat janji bahaya untuk para Muslim sebagai
pemecahan masalah untuk semua persoalan di dunia di segala waktu. Karena itu
mereka hanya punya satu nasib: kekerasan yang menyatu dalam Qur’an/riwayat
hidup sang Nabi. Tidak ada satu pun agama lain yang menjanjikan atau menuntut
begitu banyak dalam setiap langkah hidup seperti Islam. Agama ini sangat
menekankan dengan keras bagi para Muslim untuk mendirikan negara atau
pemerintahan Islam dan menetapkan Sharia. Kehidupan seorang Muslim tidak
lengkap tanpa itu. Sikap ini punya tujuan yang jelas 1.500 tahun yang lalu,
tapi sekarang malah jadi beban yang besar untuk umat manusia, untuk Islam, dan
untuk Muslim itu sendiri. Ini adalah perangkap dan mereka sampai sekarang masih
terperangkap di dalamnya. Jika Islam bicara tentang damai, ini adalah kedamaian
di atas kuburan non-Muslim, seperti yang terbukti dalam riwayat hidup sang Nabi
pada peristiwa 11 September di New York. Orang-orang frustasi, termasuk Muslim
dan ex-Muslim makin lama makin ikut berpartisipasi mengritik Islam. Dunia haus
akan keadilan sosial. Jika Islam dapat memberikan sosial sistem yang adil
seperti yang dijanjikannya, maka dunia pun akan menerima Islam. Tapi sebaliknya
yang terjadi, Islam masa kini menjadi beban sosial bagi umat manusia karena
para pemimpin Islami mengakibatkan aneka masalah bagi kemajuan peradaban umat manusia.
- Islam bicara mengenai toleransi agama
tapi Hukum-hukum Islam membunuhi non-Muslim. Memang kebanyakan
pemimpin-pemimpin Islam salah, tapi ada sesuatu yang benar-benar salah dalam
Islam itu sendiri. Kekejaman sang Nabi pada sesama manusia, juga kegagalan dan
kekerasan yang berulangkali dilakukan para pemimpin Islam merupakan alasan yang
cukup tepat untuk menolak sang Nabi dan agamanya. Kelakuannya terhadap
budak-budak, para wanita, dan non-Muslim, sudah jelas menunjukkan
keterbatasannya. Ia hanyalah seorang yang berpengaruh dengan tahu persis akan
keinginannya tanpa mengindahkan kekejaman untuk mencapai tujuannya.
Sesungguhnya tidak ada unsur illahi yang menerapkan kekejaman pada umat manusia
sepanjang zaman. SATU-SATUNYA ALASAN BERDIRINYA ISLAM ADALAH KARENA DUKUNGAN
TERUS-MENERUS DARI PEMIMPIN-PEMIMPIN ISLAM SELAMA 700 SAMPAI 800 TAHUN. Lepas
dari itu, Islam tidak lain hanyalah suatu ledakan kekuatan militer dalam
sejarah manusia, yang lalu akan mati bersama waktu. Perbedaannya hanyalah,
kekuatan militer ini bercampur dengan kepercayaan iman illahi Islami. Dan
sebagaimana dengan menyebarnya iman ini, maka menyebar pula bahasa dan pakaian
model Arab, rasa hormat pada buah-buahan, air dari Arab, dll ke seluruh dunia.
Ini adalah penjajahan yang diselubungi oleh iman. Upacara “Qurban” tidak ada
gunanya bagi Muslim selama seribu tahun. Upacara ini berhubungan dengan Nabi
Abraham yang meninggalkan istri dan anaknya di padang gurun untuk mati. Islam
menyuruh Muslim untuk mengritik kejahatan sosial lain, tapi buta terhadap
kekejamannya sendiri.
- Islam mengakui bahwa ilmu pengetahuan di
Qur’an tidak pernah ditemukan sebelumnya. Ini jelas melupakan kenyataan bahwa
ilmuwan-ilmuwan penemu ilmu pengetahuan itu tidak pernah memeluk Islam dan sama
sekali tak pernah membaca Qur’an selama hidup mereka. Islam membajak hasil dari
kerja keras ilmuwan Muslim sebagai karya Islam. Sepanjang hidupku aku mencari
satu saja “kode moral yang baru” yang diungkapkan oleh Islam. Tidak ada
satupun. Semua hukum-hukum Islam tentang sosial, keluarga, moral, dan
nasehat-nasehat sudah ada di pikiran manusia sebelum Islam. Juga, sungguh tidak
adil dan tidak jujur untuk mengatakan bahwa sebelum Islam seluruh dunia berada
di jaman “kegelapan” (jahiliah). Pernyataan ini menyangkal sumbangan-sumbangan
begitu banyak pemikir dan filosof pada kemajuan umat manusia sebelum Islam.
Terdapat banyak bukti bahwa beberapa kelompok masyarakat sebelum Islam malah
punya hukum-hukum manusia yang lebih adil dan jelas daripada ketidakadilan
Hukum Sharia Islam yang kejam. Terus terang saja, aku sering merasa malu setiap
kali aku membuka buku Hukum-hukum Sharia dari Sunni maupun Shia. Islam dengan
jelas memang menghapus sistem sosial primitif dari masyarakat gurun yang
terbelakang saat itu. Tapi mengaku membawa “terang” ke seluruh dunia merupakan
penghinaan terhadap para filosof dan ilmuwan sepanjang waktu di semua tempat.
Masyarakat tidak ditentukan secara langsung oleh bentuk undang-undang, tapi
lebih oleh aturan moral dan tradisi yang dijalankan. Itulah alasannya mengapa
sebuah negara seperti Inggris dapat menjadi salah satu negara yang terkemuka di
dunia tanpa memiliki undang-undang (UUD) yang tertulis yang rumit. Islam sama
sekali gagal baik sebagai undang-undang atau pun sebagai tradisi. Sebagian
besar Muslim di dunia hidup damai karena dua alasan. Pertama, kebanyakan orang
(sifat dasar manusia) selalu tidak suka akan kekejaman. Kedua, sisi kekejaman
Islam tidak pernah diungkapkan pada kebanyakan orang. Kukatakan lagi. Jika esok
pagi Islam lenyap di bumi ini, umat manusia tidak kehilangan nilai sosial
kekeluargaaan apapun. Yang hilang hanyalah kekerasan yang sewaktu-waktu
dilakukan oleh kelompok agama yang fanatik yang menderita kompleks kejiwaan
ingin jadi superior mendirikan “negara terbaik” dengan izin “illahi” untuk
menghina dan merendahkan orang lain (non-muslim), seperti yang dinyatakan oleh
Qur’an mereka. Aku bukan hanya telah meninggalkan Islam. Aku meninggalkan
pandanganku di tulisan ini sebagai wakil diriku jika aku tidak berada di sini.
Aku menyatakan bahwa setiap orang untuk mempelajari Qur’an, Shahih Bukhari,
riwayat hidup sang Nabi, dan sejarah Muslim dengan hati terbuka akan setuju
dengan yang kukatakan di sini. Aku juga mendidik anak-anakku untuk menjadi
orang-orang yang baik dan lengkap dengan konsep persaudaraan antar umat
manusia. Konsep ini telah dihina dan dihancurkan oleh konsep dan perlakuan yang
bahaya dari persaudaraan Islami. Aku mengajar mereka untuk berpedoman pd hati
nurani, dan bukan oleh rasa percaya (iman) yang buta. Ya, sekarang aku
berpedoman. Aku dibimbing oleh kesadaran kemanusiaanku, dan bukan lagi oleh
Islam. Thanks. Muhammad Bin
Abdulla.(Mantan Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar