Jumat, 21 Februari 2014

Manipulasi Terjemahan Quran

The Deceptive Translations of the Quran

PENGUBAHAN {MANIPULASI}

TERJEMAHAN QURAN

Author: Mumin Salih (ex-muslim)

Artikel ini menunjukkan bukti usaha sengaja yang dibuat oleh para penerjemah Al Qur’an utk mengubah arti dari Quran dengan maksud agar penyajiannya bisa diterima oleh para pembaca di dunia barat.

Dulu saya cukup sering baca Quran, tapi sekarang tidak lagi. Quran tidak menarik, bukan buku yang mudah dibaca atau dimengerti. Para muslim terus menerus mengulang-ulang utk menolong mereka menghafal dan membiasakan diri mereka dengan kata-kata yang tidak akrab ditelinga mereka. Karena bahasa Arab kebetulan menjadi salah satu objek yang menarik bagi saya sendiri, saya jarang baca Quran yang bahasa inggrisnya. Tapi, saya harus mengacu pada terjemahan inggrisnya jika berdebat dengan muslim non Arab. Saya khawatir tingkat ketidak akuratan yang saya temukan dalam terjemahan inggrisnya akan bisa terlihat. Yang saya bicarakan ini adalah kesalahan penerjemahan. Kesalahan ini adalah kesalahan yang sengaja dibuat oleh penerjemah hingga mengubah arti dari ayat-ayat itu dengan maksud utk menyajikan Quran dalam bentuk yang bisa diterima oleh para pembaca non Arab.

Artikel ini hanya meninjau beberapa ayat-ayat dimana para penerjemah telah memilih dengan hati-hati kata-kata yang dipakai hingga mengubah secara total arti dari ayat tsb. Ini jelas sebuah usaha penipuan agar bisa menampilkan gambaran baik dari Quran kepada para pembaca yang berbahasa inggris. Kita lihat dua dari penerjemah yang paling dikenal: Yusuf Ali dan Hilali & Khan, tapi ini bukan berarti penerjemah lain itu lebih baik.

Contoh kesatu dari surat Al Nabaa (Q.78.33)

Q. 78: 33
Inggris: Companions of equal age
Arabic: Kawa’eba atraba
Indonesia: dan gadis-gadis remaja yang sebaya

Dalam surat ini, Quran menjelaskan kenikmatan yang bisa didapat disurga dengan taman-tamannya, anggur, minuman keras dan tentu saja kenikmatan sex dari para perempuan. Dalam ayat diatas, Quran menjelaskan pada muslim (lelaki pastinya) jenis perempuan yang bisa mereka dapatkan utk mereka nikmati. Bahasa Arabnya ‘Kawa’eba’ artinya gadis/perawan muda yang dadanya kenyal dan bentuknya bagus, maksudnya kebalikan dari dada nenek-nenek. kata ‘atraba’ artinya ‘yang sebaya’. Dg demikian terjemahan yang seharusnya adalah: ‘gadis/perawan muda yang dadanya kenyal dan bentuknya bagus serta umurnya sebaya’. Penerjemah memutuskan utk melewati bagian erotisnya tentang dada perempuan tsb; sebaliknya mereka menggunakan kata companion (teman), dimana artinya bisa saja bukan perempuan!

Contoh kedua dari surat Al Imran (Q 3.14)

Inggris:
Fair in the eyes of men is the love of things they covet: Women and sons; Heaped-up hoards of gold and silver; horses branded and cattle and well-tilled land.

Arabic:
zuyyna li nnassi hubbu shahawati mina al nissaai walbanin ….

Indonesia:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Auwloh-lah tempat kembali yang baik (surga).

Kata arab ‘nas’ artinya sekelompok orang, atau ini maksudnya bisa juga umat manusia pada umumnya. Tapi dua pengertian itu termasuk lelaki dan perempuan. Dalam ayat diatas, diterjemahkan agar artinya jadi hanya ‘lelaki’, yang mana ini menjadikan artinya jauh sekali berbeda. Ayat asli sebenarnya adalah blunder (kesalahan) besar, yang menggambarkan apa yang ada dalam benak Muhammad ketika ‘wahyu’ itu diturunkan. Terjemahan yang pantas dalam bahasa inggris harusnya:

‘Mankind was made to love the desired things in life like women, children, money and cattle…’

‘umat manusia diciptakan utk mencintai hal-hal yang dihasratkannya dalam hidup seperti perempuan, anak kecil, uang dan ternak….’

Dengan kata lain, Muhammad tidak menganggap perempuan sebagai bagian dari umat manusia, tapi hanya sebagai objek birahi bagi lelaki (umat manusia versinya), disamakan dengan ternak! Ayat aslinya menunjukkan imajinasi pikiran seorang arab, dan mungkin hal ini bisa diterima di Arab abad ke-7, tapi sekarang?!?, ini bukti nyata bahwa Quran bukanlah karya Auwloh tapi hanya ciptaan seorang lelaki Arab belaka.

Penerjemah, dalam hal ini Yusuf Ali, harusnya tahu blunder ini dan mencoba membenarkan kerusakan/hal memalukan ini, hingga terjemahannya menjadi yang disebut diatas itu.

Contoh ketiga dari surat Al Naziaat (Q 79.27-30)

[79.27] What! Are ye the more difficult to create or the heaven ? Auwloh hath constructed it
[79.28] On high hath He raised its canopy, and He hath given it order and perfection.
[79.29] Its night doth He endow with darkness, and its splendour doth He bring out (with light).
[79.30] And the earth, moreover , hath He extended (to a wide expanse)

[79.27] Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Auwloh telah membangunnya,
[79.28] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,
[79.29] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.
[79.30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

Semua yang ada dalam empat ayat diatas adalah penghinaan akan logika dan sains. Dalam bahasa awamnya, ayat tersebut memberitahu kita bahwa Auwloh menciptakan langit (ayat 27) dan menyempurnakannya (ayat 28) dan menciptakan malam dan siang (ayat 29) lalu setelah semua itu Dia menciptakan bumi! Ayat-ayat ini bukan hanya menyatakan bahwa langit diciptakan dan disempurnakan sebelum penciptaan bumi, tapi juga menyatakan bahwa siang dan malam diciptakan sebelum bumi. Penerjemah mencoba menyelamatkan Quran dari tulisan-tulisan yang memalukan tsb dengan melakukan kesalahan-kesalahan terjemahan:

Dalam ayat 27, kata ‘heaven’ dipilih sebagai terjemahan kata arab (samaa), yang sebenarnya tidak punya arti ‘heaven’ sama sekali, tapi artinya langit! Ini jelas membuat perbedaan besar dalam arti tsb.

Dalam ayat 30, kata ‘more-over’ dipilih sebagai terjemahan kata arab (baada zalika) yang arti sebenarnya adalah ‘after that’. Kesalahan ini seperti sebuah usaha mati-matian dari penerjemah utk mengalihkan perhatian para pembaca dari ketidak akuratan sains. Jelas dari ayat diatas, bahwa Auwloh menerangkan urutan penciptaan, dan memastikan bahwa setelah Dia selesai mencipta seperti yang disebut dalam ayat 27-29 lalu dia menciptakan bumi yang datar.

Contoh keempat dari surat Al Nur (24:2)

Q.24: 2 the woman and the man guilty of illegal sexual intercourse, flog each of them with a hundred stripes. Let not pity withhold you in their case, in a punishment prescribed by Allâh, if you believe in Allâh and the Last Day. And let a party of the believers witness their punishment.

[24.2] Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Auwloh, jika kamu beriman kepada Auwloh, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Penerjemah, disini adalah Hilali dan Khan, memilih kata hukuman (punishment) sebagai terjemahan kata arab ‘Azabahuma’ yang artinya adalah sebuah kesalahan besar! Arti yang tepat dari kata azabahuma adalah: “the torture of both of them” (siksaan bagi keduanya), tapi penerjemah ingin mengalihkan perhatian pembaca dari fakta bahwa Auwloh, yang harusnya maha pengampun, sebenarnya menyetujui penyiksaan!

Well, jeleknya adalah bahwa Auwloh tidak saja menyetujui penyiksaan, tapi Dia juga ikut khawatir terhadap perasaan dari orang-orang yang melaksanakan perintah siksaan ini, Dia khawatir mereka akan terpengaruh hingga memperingan hukuman yang diperintahkanNya ini. Itu sebabnya Dia memperingatkan mereka agar jangan berbelas kasihan pada orang-orang terhukum tsb, dan mengingatkan mereka akan Hari keramat yang sangat mereka hapal, yaitu Hari Kiamat, juga dikenal sebagai Hari Pengadilan, meski ‘Hari Siksaan’ sebenarnya lebih tepat utk itu.

Untuk melengkapi kesadisanNya, Auwloh memerintahkan orang-orang beriman lainnya agar menyaksikan kekejian ini dengan berkata: ‘dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman’. Sesuai dengan perintah ini, sudah menjadi kewajiban dari masyarakat Islam (Fardh kefaya/fardu kifaya) utk menonton penyiksaan ini, itu sebabnya kenapa mereka mengumumkannya di mesjid setelah sholat Jum’at agar orang-orang ‘beriman’ datang menonton!

Meski menerjemahkan Quran itu berbeda dari penafsiran, penerjemah sering memasukkan ‘tafsir keinginan’ mereka sendiri dalam banyak ayat, yang tidak sejalan dengan tafsir tradisional yang sudah diterima banyak orang islam. Ini biasa terjadi khususnya ketika Quran mengatakan sesuatu yang mustahil, yang membuat atau memperingatkan sang penerjemah agar ‘turut campur’ seketika utk menghentikan para pembaca agar tidak punya pikiran macam-macam. Dengan kata lain, mereka berkata pada para pembaca: ‘please jangan salah pahami Auwloh! Yang Dia maksudkan itu sebenarnya hal yang lain!’

Berikut adalah dua contoh dari praktek aneh tsb:
Contoh kelima dari Surat Al Hajj (22:65)
Q.22: 65. … Auwloh has made subject to you all that is on the earth, and the ships that sail through the sea by His Command? He withholds the sky (rain) from falling on the earth except by His leave…

Penerjemah sengaja menyisipkan kata ‘rain’ di dalam tanda kurung utk mengesankan bahwa inilah yang dimaksud dengan kata ‘sky’. Saya tidak pernah tahu bahwa ‘sky’ bisa punya arti aneh demikian, tidak juga para akademisi muslim yang menjelaskan ayat selama 1400 tahun belakangan ini. Lagi-lagi, penerjemah berusaha sekuat tenaga memperbaiki kerusakan sains yang ada dalam ayat ini, dengan mengalihkan benak pembaca agar tidak berpikir tentang langit yang jatuh.

Contoh keenam dari surat Al Nissa (Q.4.34)
Q.4: 34…..as to those women on whose part ye fear disloyalty and ill conduct, admonish them (first), (Next), refuse to share their beds, (And last) beat them (lightly)

Q.4: 34….As to those women on whose part you see illconduct, admonish them (first), (next), refuse to share their beds, (and last) beat them (lightly, if it is useful),

Dalam ayat diatas, Auwloh berbicara (pastinya pada lelaki) tentang bagaimana berurusan dengan para perempuan itu, yang mereka duga akan tidak setia dan meminta para lelaki agar berhati-hati pada para perempuan tsb dan menolak membagi ranjang dengan mereka dan menyuruh memukul mereka. Penerjemah menambahkan (dengan kebaik hatian mereka) pada ayat ini dengan menyisipkan kata ‘lightly’ (perlahan) segera setelah kata ‘beat them’ (pukul mereka), seakan mereka ingin bilang pada para pembaca: please jangan salah pahami Auwloh!

Quran tidak berkata ‘lightly’ sama sekali, tapi penerjemah menyisipkannya agar segera mempengaruh pembaca. Auwloh bisa dengan mudah bilang ‘lightly’ jika Dia bermaksud begitu, tapi Dia tidak bermaksud menyuruh utk memukul perempuan dengan pelahan. Juga Auwloh tidak memberi syarat apapun seperti yang disarankan oleh Hilali/Khan ketika mereka menambahkan kata ‘if it useful’ (jika berguna).


QURAN PUNYA TABIR PENGHALANG
Quran ditulis dengan gaya Arab Kuno yang kurang akrab bagi sebagian besar orang Arab. Dengan demikian Quran memposisikan dirinya dengan nyaman dibelakang tabir penghalang yang membuatnya terlihat samar-samar dan punya arti mendua dan membuatnya jauh dari mata kritis. Mirip seperti perempuan muslim yang pakai cadar hitam dan ikutan kontes kecantikan. Hanya mereka yang tidak punya IQ saja yang akan memilih perempuan ini sebagai ‘Ratu Kecantikan” dg hanya berdasarkan: “Siapa tahu dia cantik?” Kita tidak tahu apa yang ada dibelakang cadar! Orang dengan otak yang normal bahkan tidak akan menganggap dia layak ikut kontes.

Akademisi muslim mempromosikan Quran beserta cadar hitamnya dan meyakinkan para pengikut yang bodoh dan bilang bahwa kitab ini adalah kitab yang paling indah, tapi, mereka tidak pernah akan bisa melihat yang sebenarnya karena ada cadar tsb! Mereka mengklaim pada para pengikutnya bahwa Quran mengatakan semuanya, semua yang cocok dengan agenda mereka, meski mereka sebenarnya mungkin tidak melihatnya karena cadar itu! Orang berharap bahwa dengan menterjemahkan Quran kebahasa lain akan menghilangkan cadar mendua yang melindungi versi arabnya yang asli (yang tidak pakai ‘tanda kurung’ untuk menjelaskan maksudnya), dan menyajikannnya dalam bahasa yang jelas dan sederhana pada para pembaca non arab. Sayangnya, maksud demikian jauh dari kebenaran karena para penerjemah memilih kata dan gaya bahasa yang tetap mempertahankan kepalsuan, kemenduaan dan kesamaran dari Quran.

Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=15818
http://www.news.faithfreedom.org/index.php?name=News&file=article&sid= 1396
translator: podrock

Catatan Tentang Sejarah Quran

The Quran's Historicity

MEMPERTANYAKAN BUKTI
HISTORIS QURAN

Sebelum 750 AD (sekitar 100 tahun setelah wafatnya Muhamad) tidak ada satupun dokumen yang dapat memberikan gambaran tentang perioda pembentukan Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksian dari masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka, antara masa penjajahan Arab pertama pada permulaan abad ke 7, sampai timbulnya literatur pertama Islam abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI).

Satu-satunya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu terdiri dari ‘hampir seluruhnya pernyataan yang tidak jelas asalnya' (“almost entirely of rather dubious citations in later compilations’’[Humphreys]).

Memang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100 tahun setelah kelahiran nabi mereka.

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke-2 literatur Yahudi:

cerita Cain & Abel (Kain & Habil) dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam dari Targum Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5;

cerita Abraham, berhala dan penghancuran mereka dalam Sura 21.51-71 adalah dari Misdrash Rabbah ;

cerita Solomon dalam Sura 27.17-44, tentang burung yang dapat berbicara dan ratu Sheba yang mengangkat gaunnya karena menyangka lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita Esther.



Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum Yahwe (Surah 7.171) berasal dari The Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.

Dalam Surah 17.1 terdapat laporan tentang perjalanan Muhamad dari mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini menunjuk kepada Muhammad menaiki langit ke 7, setelah sebuah perjalanan malam ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem, diatas kuda bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

Quran menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan hubungan dengan orang-orang Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surah 2.144 and 149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari tahun 661) dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660) menunjukkan hubungan baik antara kaum Yahudi dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai kaum Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut gubernur Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap akhir masa penjajahan/conquest. Jadi, testimoni-testimoni sejarah ini bertentangan dengan kesaksian dalam Quran.



MEKAH

Dalam Surah 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah (Bakkah) yang merupakan tempat perlindungan pertama umat manusia, atau the ‘’Mother of all settlement’’ Adam menempatkan batu hitam dalam Ka’bah pertama, namun dalam Sura 2.125-127 disebutkan bahwa Abraham dan Ishmael yang membangunnya kembali beberapa tahun kemudian.

Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan bahwa Mekah tidak disebut-sebut dalam dokumen arkeologi sebelum permulaan abad ke 8. Ingatlah bahwa ini merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.

Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim bahwa selain merupakan kota tua dan besar, Mekah juga pusat dagang Arab di abad ke7 dan sebelumnya. Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya karena bukti-bukti dokumen dari jaman itu cukup banyak.

Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti bahwa pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini dibuktikan lebih lanjut oleh Groom dan Muller yang mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada rute perdagangan karena secara geografis ini berarti orang harus mengadakan de-tour (jalan memutar yg lebih panjang, yg justru bertentangan dengan logika ekonomi kaum pedagang) ketimbang melewati rute normal, yaitu melalui jalur barat. (It would have entailed a detour from the natural route along the western ridge.)

Bahkan Patricia Crone menambahkan ‘’Mekah adalah tempat gersang dan kering dan tempat-tempat macam itu bukan pilihan pedagang. Mengapa karavan harus turun kedalam lembah gersang Mekah kalau mereka dengan mudah dapat berhenti di Ta'if?"

Ia juga mempertanyakan, komoditi macam apa di wilayah Arab saat itu yg bisa ditransportasi melewati jarak jauh dan alam kering, dan tetap bisa dijual dengan mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak strategis itu?"

Faktanya adalah, pada abad-abad tidak lama menjelang kelahiran Muhamad di tanah Arab ini tidak ada satupun jalur pedagangan internasional, apalagi di Mekah. Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan "Mekah sarang dagang" ini adalah gara-gara riset tidak teliti seorang Jesuit, Henry Lammens, seorang "akademik yang tidak reliable".

Lammens menggunakan sumber-sumber abad pertama (seperti orang-orang Romawi, Periplus dan Pliny) dan bukannya sumber-sumber sejarawan Yunani yang hidup lebih dekat pada masa tersebut seperti Cosmas, Procopius dan Theodoratos (P. Crone).

Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan Yunani antara India dan negara-negara Mediterania sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan anda membuka atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya mengangkut barang dagangan melewati jalan darat yang cukup jauh jika jarak itu bisa ditempuh dalam separuh waktu lewat sungai/laut. Selain lebih cepat dan menjaga agar komoditi dagangan tidak rusak termakan waktu, juga lebih hemat dalam biaya dan resiko perjalanan. Logika pedagang mana yg mau mengambil jalan/rute yg sama sekali tidak ekonomis itu?

Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih murah bagi kerajaan Romawi untuk mengangkut gandum lewat laut sepanjang 780 km (1,250 miles) ketimbang mengangkutnya lewat jalan darat sepanjang 30 km (50 miles). Mengapa para pedagang dari India mengirim lewat laut barang dagangan mereka, menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat gurun gersang?

Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga akan melihat bahwa jalur perdagangan Yunani-Romawi dengan India runtuh pada abad 3 AD (sesudah Masehi), sehingga pada jaman Muhammad tidak ada jalur darat maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan barang dagang tersebut. Croone juga menunjukkan bahwa, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk membaca sumber-sumber Yunani kuno, ia akan menemukan bahwa orang-orang Yunani -- tujuan barang dagangan tsb -- belum pernah mendengar nama kota Mekah. Kalau memang tempat itu begitu penting, tentunya mereka yang akan menerima barang dagangan tersebut pasti mengetahui eksistensinya. Namun, kita TIDAK MENEMUKAN SEDIKITPUN KETERANGAN, kecuali bahwa orang Yunani menyebut kota Ta’if dan Yathrib (kemudian dinamakan Medina), juga Khaybar di bagian utara. Tidak adanya sebutan Mekah dalam dokumen historis memang merupakan fakta problematik dalam membuktikan keberadaan sebuah kota yang dianggap pusat kelahiran Islam.

Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam tentang dimana sebenarnya letak Mekah. Menutut riset J. van Ess, baik pada masa perang sipil pertama dan kedua, ada kesaksian tentang orang-orang yang bergerak dari Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu terletak di bagian south-west Medina sementara Iraq berada di belahan north-east. Maka kota perlindungan Islam, menurut tradisi tersebut terletak di bagian timur Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak Mekah sekarang!?!?!

(According to the research by J. van Ess, in both the first and second civil wars, there are accounts of people proceeding from Medina to Iraq , via Mecca , yet the town is situated south-west of Medina and Iraq is north-east. Thus the sanctuary for Islam, according to these traditions was at one time north of Medina , which is the opposite direction from where Mecca stands today!)

Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya bukti-bukti dokumenter Arab dan Yahudi tentang penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat Islam itu dikenal hanya jauh kemudian.



BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT

Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah pada sekitar tahun 624. Namun bukti-bukti arkeologis yang masih berlangsung pada mesjid-mesjid pertama yang dibangun pada abad ke7 oleh para arkeolog Creswell dan Fehervari mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat Baghdad, menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan pada Mekah tetapi jauh ke utara. Mesjid Wasit malah melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan mesjid Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan kesaksian Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, yang dibangun tahun 670 mengarah ke barat, padahal kalau mau mengarah ke Mekah, seharusnya mengarah ke selatan.

Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan bahwa arah Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus diperbaiki oleh gubernur Qurra b. Sharik. Bukti-bukti diatas menunjukkan bahwa Kiblat tidak diunjukkan pada Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara, kemungkinan didekat Yerusalem.

Ini diperkuat oleh pelancong dan penulis Kristen Yakub dari Edessa, yang tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi mata di Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama Yunani bagi kaum Saracen) di Mesir bersolat menghadap ke timur dan TIDAK ke selatan atau tenggara (menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British Museum) memang merupakan pembuka mata. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa sampai tahun 705 pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.

Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and African Studies di London), penemuan arkeologis baru juga menunjukkan bahwa sampai saat itu, kaum Muslim (atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu Ishmael, yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak mengarah ke Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar Yerusalem. NAMUN QURAN MENGATAKAN KEPADA KITA (dalam Surah 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU MEKAH, kira-kira 2 tahun setelah HIjrah, atau sekitar 624 dan tidak pernah berubah sampai sekarang.

Apa yang terjadi disini? Mengapa Kiblat tidak mengarah kepada Mekah sebelum tahun 705? Mari sekarang kita melihat Yerusalem.



THE DOME OF THE ROCK

Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun 691 dan sampai sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat. Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.

Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna memperingati malam Muhamad terbang ke surga guna berbicara dengan Musa dan Allah tentang jumlah sholat yang harus dipatuhi pengikutnya. Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo, kaligrafi disana tidak menyebtukan apa-apa tentang Mi’raj NAMUN MENOLAK STATUS KETUHANAN YESUS, PENERIMAAN PARA NABI, PENERIMAAN WAHYU OLEH MUHAMAD DAN PENGGUNAAN ISTILAH ‘’Islam’’ DAN ‘’Muslim’’.

Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk memperingati Mi’raj Nabi gedung itu tidak menyebut sepatah katapun tentangnya? Gedung megah ini yang didirikan pada masa kelahiran Islam menunjukkan bahwa GEDUNG INILAH DAN BUKAN MEKAH yang merupakan tempat perlindungan Islam pertama dan pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.

Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa antara tahun 715-717, pergi ke Mekah dan bertanya tentang naik haji. Ia tidak puas dengan jawaban yang diterimanya disana dam memilih untuk mengikuti Abd al-Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini saja, kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan pada abad ke 8 sudah adanya ketidakpastian tentang letak tempat lahirnya Islam.

Menurut tradisi, WALID I, kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis kepada semua daerah, memerintahkan penghancuran dan peluasan mesjid-mesjid. Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan kearah Mekah? Kalau iya, ini menunjukkan kontradiksi besar-besaran dalam Quran.

Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini Islam, menunjukkan pengamatan menarik terhadap Muhamad. Sumber-sumber non-muslim terbaik masa ini diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu-batuan yang tersebar di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun Negev. Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem, melakukan riset ekstensif dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1994 dalam bukunya ‘’Toward a Prehistory of Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam’’, yang saya jadikan bahan acuan disini.

Nevo menemukan dalam teks-teks religius Arab, dari satu setengah abad kekuasaan Arab (abad ke 7 dan ke adanya sebuah kepercayaan monotheis yang ‘’jelas-jelas bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana Islam bisa berkembang" ("demonstrably not Islam, but a creed from which Islam could have developed’’.)

Ia juga menemukan bahwa dalam semua institusi religius selama masa SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun sebutan tentang Muhammad atau petunjuk bahwa Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai sekitar tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religious atau hanya commemorative, seperti inskripsi pada bendungan didekat Ta’if, yang didirikan oleh Kalif Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama Muhamad pada inskripsi-inskripsi kuno adalah penting.

Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah ditemukan pada coin Arab-Sassanian dari Xalib ben Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di Damaskus. Pernyataan Kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan Allah), pernyataan bahwa Muhammad rasul Allah dan penolakan keTuhanan Jesus (rasul Allah wa-abduhu) ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam the Dome of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMYA, PERNYATAAN KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.

Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama Muhammad biasanya timbul dalam pernyataan religius, seperti pada coin, milestones and papyrus ‘’protocols’’. Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam bahasa Yunani dan Arab dan menganut judul ‘’BASMALA’’, namun karakternya bukan Kristen maupun Muslim.

Inskripsi-niskripsi dalam the Dome of the Rock, walaupun mengandung teks religius, tidak pernah menyebut nama nabi atau kepercayaan Muslim, 30 tahun setelah kematian Muhammad, walaupun menganut suatu bentuk monotheisme yang berkembang dari gaya literatur Yahudi-Kristen. Terlibih lagi, ketika kepercayaan itu diperkenalkan pada masa MARWANID (setelah 684) it is carried almost ‘’overnight’’. Tiba-tiba, kepercayaan itu menjadi satu-satunya deklarasi religius negara. Namun lagi-lagi tidak begitu saja diterima rakyat.

Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya dimulai digunakan dalam inskripsi umum pada jaman Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN MEREKA PEGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu, kata Nevo, kita harus menunggu sampai permulaan abad ke 9 (sekitar 822), bersamaan dengan ditemukannya Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa bukan semasa hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi, BAHKAN KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD TIDAK SAMA DENGAN APA YANG DITEMUKAN SEKARANG.



QURAN

Sumber-sumber menunjukkan bahwa buku ini (Quran) disusun secara tergesa-gesa. Wansbrough mengatakan bahwa ‘’nampak jelas bahwa buku ini (Quran) tidak memiliki struktur keseluruhan, sering tidak jelas, baik dari segi bahasa maupun isi, menghubung-hubungkan materi yang terpisah-pisah dan cenderung mengulang-ulang anak-kalimat dalam berbagai versi. Atas dasar ini dapat disimpulkan bahwa buku ini adalah produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari bermacam-macam tradisi’’ seperti dikutip dalam buku Crone-Cook ‘’Hagarism’’.

Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa menerka dari penanggalan manuskrip-manuskrip yang ada. Dari sini, kami bisa menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad ke 7. Referensi tertua dari luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan dengan ‘’Quran’’ timbul pada pertengahan abad 8 dari tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal sekarang. Baik Crone maupun Cook menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir abad ke 7.

Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya Muhamad pada masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar tahun 705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj nampak telah mengumpulkan semua tulisan-tulisan lama kaum Hagarene dan menggantikannya dengan versi yang disusun ‘’menurut keinginannya, dan membagikannya kepada siapaun di negerinya’’. Ini juga sesuai dengan fakta bahwa baik manuskrip Quran di Samarqand dan Topkapi (di Turki), Quran tertua yang kita miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek Persia dari Kufa, dan bukan bahasa Arab.

Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah Quran memulai perkembangannya, kemungkinan ditulis, sampai akhirnya disahkan pada pertengahan sampai akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal sekarang.

Namun demikian, bukti-bukti arkeologis tentang keberadaan Quran adalah yang paling problematik. Bekas-bekas bangunan dan inskripsi dari daerah itu dari abad 7 dan 8 tidak hanya menunjukan kontradiksi bahwa Muhamad mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia yang menyusun Quran yang kita kenal sekarang, bahkan asal usul ke-nabiannya juga diragukan. Ini merupakan penemuan penting dan problematik.

Sekarang kita menemukan coin-coin yang katanya memuat tulisan Quran, tertanggal 685, yang dibuat pada masa Abdul Malik. Terlebih lagi, the Dome of the Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan dalam Quran.

Dua ahli etymologi, Van Berchem and Grohmann, setelah riset ekstensif terhadap inskripsi ini mengatakan bahwa mereka mengandung ‘’variant verbal forms, extensive deviances, as well as omissions from the text which we have today’’(‘’Arabic Papyri from Hirbet el-Mird’’ as cited by Crone-Cook).

Jika inskripsi-inskripsi ini berasal dari Quran, dengan berbagai macam variasi. bagaimana mungkin Quran disahkan (dikanonisasi/qanun) sebelum akhir abad ke 8? Orang hanya bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah evolusi dalam penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA DIKUTIP DARI QURAN.



KESIMPULAN SINGKAT :

Kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling tidak tahun 640.

Yerusalem adalah Holy Sanctuary for Islam sebenarnya sampai permulaan abad ke 8.

Mekah tidak dikenal sebagai kota yang viable sebelum akhir abad ke 7 dan tidak juga dikenal sebagai rute perdagangan.

Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad ke 8.

Muhammad tidak dikenal sebagai rasul semua rasul sebelum akhir abad ke 7.

Referensi paling pertama tentang adanya Quran tidak ada sebelum pertengahan abad ke delapan.

Tulisan Quran original tidak serupa dengan teks Quran sekarang.

Quran yang kita miliki sekarang BUKAN Quran yagn seharusnya dikumpulkan dan dikanonisasi kalif Uthman pada tahun 650, seperti diakui kaum muslimin.

Quran yang kita miliki sekarang (sejak tahun 790) tidak ditulis 16 tahun setelah wafatnya Muhamad, melainkan 160 tahun kemudian!

sumber :
www.indonesia.faithfreedom.orgwww.indonesia.faithfreedom.org
www.faithfr.dreamhosters.comwww.faithfr.dreamhosters.com
www.flex.com/~jai/satyamevajayatewww.flex.com/~jai/satyamevajayate
www.debate.org.ukwww.debate.org.uk by Joseph Smith.
http://sullivan-county.comhttp://sullivan-county.com by Joseph Smith.
http://sullivan-county.comhttp://sullivan-county.com by Ibn Warraq.

Bertobatnya Penulis Situs Answering- Christianity.com

ISSA AHMAD KHALID
(ANTHONY TARASCA)
Penulis Situs Anti-Kristen:
www.answering-christianity.com
KEMBALI KE PANGKUAN KRISTUS


PENDAHULUAN
Saudara-saudara dalam Yesus Kristus, aku ingin menyampaikan kepada kalian semua perjalanan spiritual yang telah kualami, yang dahulu membuatku meninggalkan Anugrah Keselamatan dari Tuhan kita Yesus Kristus ke dunia kebingungan ritual agama islam. Bukan tujuanku untuk menyinggung perasaan para Muslim, tapi aku merasa perlu menyampaikan hal ini untuk menyebarkan kebenaran akan Tuhan Yesus dengan harapan menyadarkan umat Kristen yang bingung untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan dulu dengan beralih memeluk islam dan juga untuk menerangkan kepada semua Muslim mengapa aku kembali ke tangan penuh kasih Tuhan dan Juru Selamatku Yesus Kristus. Aku berdoa agar kalian membaca kata-kataku ini dengan hati dan pikiran terbuka.

LAHIR SEBAGAI ORANG KATOLIK ROMA
Aku memeluk agama Kristen sejak usia muda. Ibuku dari dulu sampai saat ini merupakan penganut Katolik Roma yang taat. Di luar masalah setuju atau tidak dengan theologi Katolik, aku mengagumi imannya. Iman ini yang membuatku belajar di sekolah Katolik sewaktu masih anak-anak, dan juga menjadi pembantu pengurus altar di kebaktian Misa hari Minggu. Setelah aku dewasa, aku mulai melayani sebagai Usher dan bercita-cita jadi pastor Katolik Roma. Aku ingin mengabdi pada Tuhan dengan segala kemampuan yang kumiliki. Pada tahun-tahun belajar agama ini, aku mulai mempertanyakan apa sih yang kuikuti sebagai seorang Katolik karena melihat banyaknya dogma dan tradisi yang tidak tercantum dalam Alkitab.
Aku mulai merasa bahwa gereja Katolik merasa diri mereka sendirilah yang punya hak untuk mengartikan Alkitab sesuai anggapan mereka. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang dapat mempelajari Alkitab dan percaya bahwa pada Maria yang adalah ibu perawan Tuhan kita Yesus, karena sebenarnya Yesuslah yang jadi perantara Tuhan dan manusia. Berdoa kepada Maria dan orang suci lainnya tidaklah perlu dan merupakan pelanggaran mutlak Perintah ke 1 dan 2. Akan tetapi, aku tidak bertujuan untuk mengecam Gereja Katolik atau umat Katolik karena mereka pun umat Kristen pula. Tapi aku merasa perlu menyampaikan hal ini untuk menjelaskan latar belakang mengapa aku meninggalkan Gereja. Setelah bertahun-tahun kemudian baru aku sadar bahwa kebingunganku akan iman Kristen bukanlah terletak pada paham Kristen itu sendiri, tapi pada interpretasi Katolik akan Kristen.
Hal ini jelas tampak pada banyak tulisanku tentang propaganda islam yang jelas menunjukan latar belakang ajaran Katolik dan bukannya ajaran asli Alkitab yang jadi jelas setelah aku menghabiskan waktu untuk mempelajarinya.
Beberapa tahun setelah aku meninggalkan Gereja, aku memeluk islam dan jadi Muslim, lalu mengganti namaku jadi Issa Ahmad Khalid. Aku mulai menulis kampanye melawan Kristen dalam mempromosikan islam. Aku sangat terpengaruh oleh ajaran Sheikh Ahmed Deedat, sampai-sampai melakukan pengecaman yang sama yang dilakukannya. Hal ini jelas membuat banyak Muslim merasa senang, apalagi dulunya aku penganut Katolik taat.

ISSA AHMAD KHALID
Dengan nama Muslim baruku, aku menghabiskan beberapa tahun menjadi tokoh islam berpengaruh di masyarakat Muslim lokal. Aku berkhotbah di banyak mesjid dan bahkan sempat muncul dua kali dalam acara TV dengan tokoh Muslim lokal lainnya. Aku malu untuk mengatakan bahwa waktu itu aku senang sekali membuat kaum Kristen marah dengan isi khotbahku. Aku bahkan mengambil sikap yang lebih kontroversial untuk menghina dan merendahkan iman Kristen dengan segala kemampuanku tanpa menahan diri sama sekali. Aku menyebut Alkitab sebagai kitab porno dan tak bermoral. Aku habiskan waktu berjam-jam mencari-cari dalam halaman-halaman Alkitab untuk menghina lebih lanjut. Aku bahkan juga mengartikan ayat-ayat di luar konteks yang dimengerti orang Kristen berpengetahuan manapun untuk mendukung tulisanku karena aku membayangkan menulis artikel tsb untuk orang awam yang tidak tahu apa-apa.

Meskipun begitu harus kuakui bahwa segala tujuan jelekku terhadap Alkitab malahan nantinya membuktikan alasan kembalinya diriku pada iman Kristen.


KEBINGUNGAN AKAN ISLAM
Ada banyak hal yang akhirnya membuatku bingung dengan Islam. Tidak hanya kelakuan para Muslim saja, tapi juga dengan ajaran-ajaran dan literatur Islam juga. Faktor terutama di atas segalanya adalah karakter (sifat, perilaku) Muhammad yang tadinya kuanggap sebagai yang terbesar diantara para Nabi Tuhan (Allah), dan penerima wahyu Tuhan terakhir bagi umat manusia seperti yang dipercaya Muslim tertera di dalam Qur’an.

Aku membaca banyak sekali literatur islam sampai aku akhirnya percaya bahwa islam adalah agama yang paling sempurna, dan juga Muhammad adalah perwujudan kesempurnaan Tuhan. Literatur-literatur islam tsb menggunakan Alkitab sebagai alat dan referensi untuk menunjukkan ke-sah-an kenabian Muhammad dan Islam.


Di pihak lain, para Muslim (termasuk diriku sendiri) terus saja mengumbar bahwa Alkitab telah dikorupsi, tapi di lain pihak kami menggunakan Alkitab yang sama untuk membuktikan kenabian Muhammad. Ini jelas munafik total tidak hanya di pihak diriku saja, tapi pihak semua Muslim yang terus melakukan hal ini. Aku mengutip ayat-ayat Alkitab di luar pengertian aslinya agar bisa memutarbalikkan isinya untuk mendukung ideologi dan interpretasi Islam sendiri.


Ini tidak berbeda dengan seorang pemanah yang curang. Jikalau pemanah yang jujur akan mengarah sasaran terlebih dahulu dan lalu menembakkan panah dengan tepat, pemanah yang curang menembakkan panah terlebih dahulu dan mendekatkan sasaran di sekitar letak panah itu.

Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut bahwa tiada bukti Muhammad ada di Alkitab seperti yang dikatakan para Muslim termasuk diriku sendiri dahulu. Semua bukti-bukti keberadaan Muhammad dalam Alkitab hanyalah karangan Muslim belaka. Ini kutunjukkan beberapa contohnya: “Ucapan illahi terhadap Arabia.” Yesaya 21:13.


Dalam mengartikan ayat ini, Muslim akan mencoba dan meyakinkan semua orang yang mau mendengar bahwa ayat ini menyebut tentang Muhammad dan dunia Muslim sebagai penegak hukum Allah hanya karena ada huruf Arabia belaka. Tiada beban yang diletakkan pada Arabia seperti yang diungkapkan ahli Islam Sheik Ahmed Deedat di “Bible Combat Kit”, tapi ayat ini hanyalah berisi ramalan peringatan terhadap Arabia. Jika membaca dan mempelajari dengan seksama berdasarkan keterangan sejarah, isi ayat ini berhubungan dengan kaum Dedan yang tadinya bermalam pada orang-orang Arab ketika mereka melakukan perjalanan di padang pasir, tapi sekarang harus bermalam di semak belukar karena kaum Arab akan diusir ke luar dari tanah itu. Jadi jelas hal ini tidak ada hubungannya dengan Muhammad.


Ulangan 33:2
“Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kananNya tampak kepada mereka api yang menyala.”
Ayat ini mengisahkan perjalanan umat Israel di bawah pimpinan Nabi Musa; sewaktu mereka meninggalkan Mesir ke gurun pasir, untuk menerima Perintah Tuhan di Gunung Sinai, untuk akhirnya menuju Tanah Perjanjian di luar Paran dan membawa Perintah Tuhan. Para Muslim menganggap bahwa Gunung Paran dan Api yang menyala adalah Mekah dan Qur’an, dan bahwa Muhammad sewaktu masuk Mekah membawa 10.000 pengikutnya. Lagi, masalahnya bagi Muslim adalah fakta sejarah yang sudah jelas bahwa Musa mendidik generasi baru kaum Israel, setelah generasi yang tua mati, tentang perjalanan kaum Israel menuju Tanah Perjanjian.

Tentang kata “puluhan ribu orang kudus”, adalah menggambarkan jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Pada saat itu, literatur Yahudi belum mengenal angka nol, sehingga mereka memakai kata puluhan ribuan (plural) untuk menggambarkan jumlah ribuan yang banyak sekali. Juga, Gunung Paran tidak terletak di Arabia, tapi di gurun Sinai. Ayat ini jelas sama sekali tidak mengungkapkan apa-apa tentang kedatangan Muhammad.


"The villages that Kedar doth inhabit." Isaiah (Yesaya) 42:11
"Arabia and all the princes of Kedar." Ezekiel (Yeheskiel) 27:21
Sekali lagi, para Muslim tidak tahu fakta sejarah yang penting dalam ayat-ayat di atas. Memang benar bahwa salah satu anak Ismael bernama Kedar, tapi dengan menggunakan ayat ini untuk membuktikan kedatangan Muhammad adalah hal yang tidak berdasar sama sekali karena Kedar adalah juga sebutan bagi Arabia di masa Nabi Yesaya dan Yehezkiel. Juga Yehezkiel menerangkan dengan jelas bahwa dia menyebut para pedagang lokal sebagai pangeran-pangeran Kedar.

"For to you every vision has become like the words of a sealed book. You give it to someone able to read and say, read that. He replies, I cannot because it is sealed. You then give the book to someone who cannot read and say, read that. He replies, I cannot read." Isaiah 29:11-12
Muslim menggunakan ayat ini sebagai referensi Muhammad mendapat wahyu Qur’an, meskipun faktanya dia tidak bisa membaca. Muslim juga menganggap ayat ini menggambarkan Sura pertama Qur’an “Al-Fatihah” (Pembukaan) dan mereka lupa bahwa sebenarnya Sura ini bukan Sura pertama yang diturunkan kepada Muhammad. Ayat Yesaya di atas sebenarnya adalah tentang peringatan Nabi Yesaya terhadap bangsa Israel yang menentang firman Tuhan dan mengikuti nabi-nabi palsu (cocok emang buat si muhammad, nabi palsu. –RiD)

Ulangan 18:18
“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya; dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
Di sini Tuhan mengatakan pada Musa dan bani Israel bahwa Dia akan membangkitkan seoarang nabi dari kaum dan keturunan bangsa Israel. Muslim menggunakan ayat ini sebagai bukti kedatangan Muhammad berdasarkan fondasi yang goyah karena kaum Ismael (Arab) bukanlah saudara (kandung) kaum Israel melainkan saudara sepupu. Kata “saudara” yang sama juga digunakan di Ulangan 18:7 dan ini jelas menunjukkan bahwa “saudara”yang dimaksud di sini adalah saudara kandung (garis keturunan Abraham-Sarah; Ishak) dan bukan saudara sepupu (Ismail).

Mazmur 118:22-23
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.”
Muslim mengaku bahwa ayat ini menggambarkan tentang Muhammad. Akan tetapi Tuhan kita Yesus Kristus mengutip ramalan ini di Matius 21:42-43 dan menyatakan bahwa Dialah pemenuhan dari ramalan ini.
“Terang yang Akan Datang” yang disebut di Yesaya 42:1-2, 6-7 sekali lagi menyatakan tentang Tuhan Yesus yang datang ke bumi 600 tahun sebelum Muhammad lahir.

Yohanes 14:16-17
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. Yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”
Muslim menganggap Yesus berbicara tentang Muhammad, tapi seperti yang semua umat Kristen ketahui, Yesus sebenarnya berbicara tentang Roh Kudus. Ayat itu dengan jelas mengatakan bahwa sang Penolong akan bersama-sama menyertai kita untuk selama-lamanya. Muhammad tidak menyertai kita selama-lamanya, karena dia sudah mati. Ayat itu juga mengatakan bahwa dunia tidak melihat atau kenal sang Penolong, tapi Muhammad dilihat dan dikenal banyak orang. Ayat itu juga mengatakan bahwa sang Penolong akan menyertai dan hidup di dalam diri kita; Muhammad jelas tidak dapat melakukan hal itu sebab dia bukanlah Roh. Yesus dengan jelas mengatakan bahwa ayat ini berbicara tentang sang Penolong yang adalah Roh Kudus di ayat berikut: Yohanes 14:26
“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Sekali lagi kita bisa baca di Yohanes 16:7
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Di ayat ini pun para Muslim menganggap Yesus berbicara tentang Muhammad, tapi jika mereka mengerti akan Alkitab lebih jauh, mereka akan sadar apa yang dikatakan Yesus selanjutnya tentang nubuat ini ketika dia terangkat ke Surga: Kisah Para Rasul 1:4-5

"Do not leave Jerusalem, but wait for the gift My Father promised, which you have heard Me speak about. For John baptized with water, but in a few days you will be baptized with the Holy Spirit."

Yesus dengan jelas berkata sesuatu akan terjadi dalam waktu beberapa hari dan bukan 600 tahun seperti yang Muslim ingin kita percaya. Malah akhirnya memang nubuatan itu dipenuhi dengan turunnya Roh Kudus di Kisah Para Rasul 2:1-4.

Aku bisa terus saja memberikan contoh-contoh lain yang lebih banyak, tapi ini nantinya seakan membuatku menjelek-jelekkan Muhammad belaka dan membuat hubungan jelek dengan pihak Muslim. Akan tetapi pengetahuan baru ini dan ibadah agama Islam yang diulang-ulang membuatku sadar bahwa kebenaran Tuhan terletak pada Anugrah Keselamatan Yesus Kristus. Keselamatan tidak terletak pada penyerahan diri kepada orang Arab yang hidup hampir 1.400 tahun yang lalu dan sampai saat ini diikuti para Muslim secara fanatik. Banyak contoh artikel kesaksian di www.answering-islam.org yang menunjukkan hal itu.
Hal yang paling jelas adalah Muslim hidup dalam ketakutan atas Tuhan atau sesama Muslim. Sebagai orang Kristen, aku tidak takut akan ancaman api neraka sebab aku telah menyerahkan diriku dalam Anugrah Keselamatan dari Tuhan Yesus. Hal ini tidak didapat para Muslim karena Qur’an mengajarkan bahwa Tuhan menyelamatkan siapa yang Dia Kehendaki dan mengutuk siapa yang Dia Kehendaki. Hal ini membuat Muslim bertanya-tanya apakah mereka akhirnya bisa masuk surga meskipun sudah banyak melakukan perbuatan baik. Karena pemikiran seperti inilah, banyak Muslim yang mati dalam nama Tuhan dan Islam, dengan menyebut diri mereka sebagai martir.
Tapi arti martir dalam Kristen sangatlah berbeda dengan martir dalam Islam. Muslim percaya mereka yang mati dalam perang demi Allah adalah martir. Kristen percaya bahwa martir adalah mereka yang mati untuk mempertahankan imannya dan menolak untuk menyangkal iman mereka terhadap Yesus Kristus.


AKU BERSAKSI
Selain tulisan kesaksian ini, aku telah menyatakan secara jelas kepada para Muslim yang dulu kupanggil sebagai saudara-saudaraku bahwa aku kembali kepada iman Kristenku. Sedihnya, aku diejek dan dihina, juga diancam karena terang-terangan murtad. Aku kaget sekali bagaimana aku diserang dengan sengit, tapi aku hanya takut pada Tuhan dan bukan pada orang. Yesus mengajarkan kita untuk takut pada mereka yang dapat menghancurkan jiwa dan bukan mereka yang dapat menghancurkan jasmani.
Ironisnya, diantara para Muslim yang kuberitahu tentang kemurtadanku ada orang yang memiliki website Islam. Dulu aku memberi banyak sumbangan tulisan bagi propaganda Islam di websitenya. Tapi meskipun aku telah menyatakan murtad dan kembali ke Kristen, tulisanku tetap saja tercantum di websitenya. Aku telah minta dia menghilangkan tulisanku, tapi dia hanya mengganti namaku dengan inisialku (AT) dengan menyatakan bahwa tulisan-tulisanku itu dibuat orang yang baru masuk islam. Sikapnya sangatlah munafik.
Dia tidak sadar bahwa dengan melakukan hal itu, dia berarti juga menentang agamanya sendiri. Saat ini di lingkungan Muslim aku sudah dianggap sebagai murtadin. Orang Muslim yang terus berhubungan dengan diriku bisa dianggap murtad pula. Karena karya-karya tulisanku masih ada di websitenya, dia secara tidak langsung tetap berhubungan denganku, dan sikap ini bertentangan dengan isi banyak Hadis tentang Muhammad. Artikel-artikelku dulu itu bisa dilihat disini.
Aku tidak bangga akan tulisan-tulisanku, dan ini akan jadi sesuatu yang memalukan untuk jangka waktu lama dalam hidupku. Tapi aku dulu memang tidak tahu banyak tentang Alkitab dan akhirnya pengetahuan yang benar tentang Yesus Kristus tumbuh dan aku kembali kepadaNya. Halleluya!
Aku berdoa agar kesaksianku yang singkat ini bisa mencerahkan mereka yang membacanya, jadi bahan bacaan yang menenangkan bagi mereka yang mengalami hal serupa, dan jadi sumber pengetahuan bagi mereka yang memilih untuk ikut si Muhammad atau Yesus Kristus.
Aku sekarang hidup berdasarkan Anugrah Keselamatan dari Tuhanku dan Juru Selamatku Yesus Kristus. Aku mempersiapkan diri akan kedatanganNya kembali yang bisa terjadi di waktu kapanpun. Aku sekarang bekerja bagi Tuhan, jadi seorang Pendeta, dan membagi-bagikan kesaksianku pada siapa yang mau mendengarkan.
Bagi mereka yang menuduh bahwa Alkitab bertentangan dengan isinya sendiri, aku nyatakan bahwa hal itu tidak benar. Alkitab bertentangan dengan cara hidup mereka yang menuduh hal seperti itu. Bagi mereka yang mencoba membenarkan “kesalahan” Alkitab, sebaiknya biarkan Alkitab memperbaikimu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku bisa saja terus mengecam Islam, Muhammad dan Qur’an, tapi semua yang ingin kusampaikan sudah ada disini.
Knowledge is power, pengetahuan adalah kekuatan. Jika kita miliki kekuatan itu, kita bisa mengajar orang lain. Aku ingin menganggap diriku sebagai bukti tentang hal kekuatan tsb. Terima kasih atas kesediaan kalian membaca kesaksiaku. Semoga Tuhan memberkati kalian melalui Anugrah Kesalmatan dari Yesus Kristus. Amen!

*Reverend Anthony Tarasca - the ARMOUR OF GOD CHRISTIAN MINISTRIES United In Christ Jesus.

Mempertanyakan Al Quran

. MEMPERTANYAKAN QURAN .
Apologetic Paper
by Jay Smith - 14th May 1995


A: Klaim Muslim Mengenai Quran
Penemuan Uthmanic tidak berubah selama 1400 th.
· Disusun ditahun 650. (Muhammad meninggal 632)
· Disucikan th 651 oleh Zaid Ibnu Thabit
· 4 salinan dikirim ke Medina, Mekah, Kufa dan Damaskus
  • Kata-kata sempurna dari Tuhan
  • Tidak ada kesalahan
  • Tidak ada kontradiksi
  • Lebih tinggi/mulia dibanding kitab-kitab lain (mother of all books, Q 43:3)
  • Kualitas sastra
  • Bahasa arab yg sempurna
  • Dapat diterapkan secara universal
  • Tidak dapat dibuat. Buatlah satu surat (saja) yang seperti Al Qur'an (Q 2:23)
  • Wahyu langsung tanpa perantara manusia
  • Salinan dari catatan abadi di surga (Sura 85)
  • Penutup dari semua wahyu
  • Wahyu terakhir
  • Menggantikan wahyu-wahyu sebelumnya
  • Cetak biru utk setiap aspek kehidupan
  • Agenda sosial
  • Moralitas
  • Program Politik
  • Ekonomi
  • ü Pendidikan
--------------------------
B: Pertanyaan-Pertanyaan Yg Mengganggu
Kriteria siapa yg akan dipakai?
Ke Pengadilan mana mengajukan berbagai permohonan?
Menurut orientalis;
Pertanyaan-pertanyaan yg penuh prasangka
Punya maksud/agenda terselubung? YA! Kita semua punya maksud.
Apa itu ahli orientalisme? Siapa itu orientalist?
Sejarawan, Antropolog, Sosiolog, Philolog, Phonolog, Etimolog.
Diantaranya; Patricia Crone, John Wansbrough, Michael Cook, G. Hawting, A. Jeffery.
Para orientalis ini memformulasikan metodologi mereka pada Alkitab (The Bible). Kristen tidak lari, tapi tetap teguh berdiri mempertahankan Alkitab menggunakan kriteria ilmiah yg digunakan oleh para orientalis (sejarawan, antropolog, sosiolog, philolog, phonolog, etimolog) tersebut. Malah Alkitab menjadi lebih kuat lagi bagi Kristen karena bertahan terhadap kritik ilmiah yg paling dahsyat dari para orientalis tersebut.
B1: Apakah Kita Punya Penemuan Uthmanic?
Dimana salinannya?

Pertimbangan:
Buku yang paling penting. Dasar-dasar dari Islam.
KALAU BEGITU, mestilah ada catatannya dalam bahan yg cukup tahan lama.
Catatan itu ada, naskah kuno.. abad ke 4 (Syniaticus, Alexandrinus)
Naskah kuno Ubayy Ka'b, Ibn Masud, Abu Musa dan Hafsa.
Penemuan Uthmanic. Bukan gulungan surat tapi sebuah naskah kuno.
Muslim mengklaim ada dua (Topkapi dan Sammarkand MSS).
Bagaimana caranya kita menentukan tanggal dibuatnya sebuah naskah?
Tintanya; medianya (Papyrus 4th-cent kertas); naskahnya.
Ma’il abad 7 dan 9 Medina dan Mekah
Mashq mulai abad 7.
Kufic Abad 8 - 11.
Penulisan naskah modern sejak 1950 telah menemukan naskah-naskah awal.
Noldeke, Hawting, Schacht, Lings semua menentukan tanggal dari Topkapi dan Sammarkand ke abad 9. Observasi Praktis : Quraish=Mecca, Kufa=636 AD = Persia.
Salinan awal dari Quran adalah Ma’il di Perpustakaan Inggris.
Tanggalnya, ditentukan oleh Lings = 790.
Kesimpulan:
Kita tidak punya penemuan Uthmanic. Kita cuma punya Quran yg berumur paling tua 1200 th.
Kosong selama 150 tahun!!! Dimana dokumen-dokumen (naskah asli) itu? Tidak ada Quran di jaman-jaman awal! KENAPA?!! Mungkinkah ada perubahan, evolusi sampai perioda Umayyad? Tidaklah mungkin Quran disucikan pada abad ke 7, tapi di abad 9. DARIMANA KITA TAHU? Kita gunakan sumber-sumber luar dan arkeologi.
B2: Apa Yg Arkeologi Dan Dokumen Luar Nyatakan?
Pertimbangan: B2 i. Kiblat

Kiblat disucikan/ditetapkan dalam Quran ditahun 624 kearah Mekah (Q 2:144, 149-150).
Tapi, Mesjidnya yg ditemukan, yg dibangun antara th 650-705, tidak berkiblat kearah Mekah.
Mesjid Wasit di Iraq, berkiblat ke utara, bukan ke mekah.
Baladhuri menyatakan bahwa kiblat di mesjid Kufan pertama (Irak) menghadap barat.
Fustat di Mesir, berkiblat ke timur-laut arah jerusalem.
Jacob di Odessa (uskup kristen) th 705 menulis Hagarian (keturunan Hagar/muslim sekarang) Mesir berdoa ke arah jerusalem, sama seperti Kristen.
Bukti-bukti awal dari Cook menyatakan arah berdoa (berarti juga altar) mengarah lebih ke utara, bahkan tidak ada mesjid yg ditemukan dalam perioda ini menghadap ke arah Mekah.
Beberapa mesjid Jordan juga menghadap utara, sementara ada yg menghadap utara dg pasti, beberapa mesjid Afrika malah menghadap selatan.
Mereka tidak tahu arah mata angin. Padahal mereka itu pedagang di gurun pasir, pengendara karavan! Masa’ tidak tahu arah? Ada apa dgmu? Kenapa tidak ada yg berdoa ke arah Mekah?
Alasan yg mungkin:
Hubungan dg Yahudi masih baik-baik saja, jadi tidak perlu mengubah arah kiblat.
Mekah belum lagi dikenal.

Pertimbangan: B2 ii: Yahudi
Quran berkata si Mamad ngambek kpd Yahudi th 624, dg begitu memindahkan arah kiblat (Q 2:144).
Tapi sumber Yunani membicarakan tentang Yahudi yg bergabung dg Saracen (Arab masa awal sebelum menjadi islam) dan bahaya yg akan timbul dari tangan Yahudi dan Saracen.
Kronikel Armenia thn 660 menulis, Yahudi dan Ishmaelit selalu bersama hingga tahun 640, dg dasar yg sama yaitu Abrahamisme. Mereka berencana menaklukan Palestina.
Pemisahan terjadi mendadak setelah penaklukan Jerusalem di 640. Jadi bukti dokumen berlawanan dg Quran mengenai Muhammad yg “pecah kongsi” dg Yahudi.
B2iii: Mekah

Pada waktu itu belum begitu berarti.
Muslim bilang: “Mekah adalah pusat dari islam, dan pusat sejarah”
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
Adam menyimpan batu hitam di Kabah yg asli disana.
Abraham dan Ishmael membangun kembali kabah disana.
Mekah adlh pusat dari rute perdagangan.
Jadi ini adalah kota yg pertama dan yg paling penting di dunia. Padahal Mekah tidak dalam rute perdagangn kala itu. Mekah adalah sebuah lembah, tidak ada air, tidak seperti Taif, 100 mil jauhnya (lebih murah memakai kapal 1250 mil daripada memakai unta 50 mil). Padahal juga, selain sebuah kota yg disebut Makoraba oleh geographis Ptolomy abad 2, tidak disebut-sebut tentang Mekah atau Kabah dalam dokumen manapun, hingga abd ke 7 (Cook, hal 74). Kenapa?
Jadi ada apa ini? Jika Mekah bukan pusat dari dunia muslim, lalu apa? Jawabannya sederhana. Sepertinya Jerusalam dan bukan Mekah yg merupakan pusat dan altar bagi para Hagarisme atau Maghrebites ini hingga th 700 AD. Lihat fakta lainnya.

B2 iv: Bentuk Kubah

Dibangun oleh Abd Al-Malik (Gubernur Jerusalem) th 691. Bukan sebuah mesjid, tapi altar!
Dianggap tempat suci nomor 3, utk mengenang Mi’raj.
Tapi tidak ada pahatan-pahatan (relief) mengenai Mi’raj, cuma ayat-ayat polemik mengenai Yesus.
Kenapa? Karena ini adalah pusat islam dulu, bukan Mekah.
Nyatanya, pahatan-pahatan seharusnya berisi Quran, baik di kubah maupun di coin pada perioda tsb, tapi mereka tidak cocok dg Quran sekarang (Cook, p.74).
Jadi, jika dari Quran, bagaimana bisa disucikan pada waktu itu?
Masalah lain menyangkut pengubahan wahyu.

B2 iv: Muhammad
Muhammad, pedagang dan penakluk hingga akhir abad ke 7, tapi tdk disebut-sebut sebagai nabi hingga abad 8, dan hanya ada dalam literatur muslim (Maghazi?)

B2 vi: Muslim
Muslim adalah nama yg digunakan pertama kali pada akhir abad ke 7.
Athanasius (684) di Syriac menggunakan Maghrayes.
Jacob dari Odessa (705) menyebut mereka Haggarenes (Ishmaelites, Saracen Muhajirun).
B2 vii : Sholat
Umar II (717-720), kalifah saleh, tidak tahu detail-detail sholat.
Quran dalam Sura 11:114; 17:78-79; 20:130;30:17-18 menyatakan hanya 3 kali sholat. Darimana mendapat 5 kali sholat? Dari hadis, yg disusun 200-250 tahun kemudian (Zoroastrians)

B2 vii: Haji
Suleyman (715-717) pergi ke Mekah dan bertanya-yanya mengenai Haji. Lalu memilih utk mengikuti Malik ke Jerusalem.
C: Kesimpulan
Jadi apa yg dapat kita katakan mengenai penemuan Uthmanic? Dimana itu? Kenapa kita tidak punya salinannya? Skriptologi modern membuktikan bahwa Topkapi dan Sammarkand dibuat 200 thn kemudian.
Arkeologi menunjukkan bahwa apa yg dipertahankan oleh Quran tidak cocok dg data yg kita punyai.
Kiblat belum ditetapkan hingga abad berikutnya.
Yahudi tetap mempertahankan hubungannya dg Arab hingga paling tidak tahun 640.
Penulisan Quran yg awal tidak cocok dg Quran yg kita punyai sekarang.
Jumlah sholat maupun Haji belum diformalkan hingga th 717.
Muhammad tidak dikenal sebagai Nabi, ataupun kata Muslim belum digunakan hingga akhir abad 7. Ini adalah statemen dari sumber luar dan arkeologi!
Mereka semua mengkontradiksi Quran yg kita punya saat ini, dan menambah kecurigaan kita bahwa Quran yg kita baca sekarang tidak sama dg yg disusun dan disucikan pada th 650AD oleh Uthman (itupun jika betul-betul ada waktu itu).
Kita hanya dapat berasumsi bahwa pastilah ada perubahan pada teks Quran. Maka dari itu, satu hal yg dapat kita katakan dg pasti adalah satu-satunya dokumen yg kita punyai sekarang (dari 790 AD) sama dg yg sekarang ada ditangan kita, ditulis 160 th sesudah kematian Muhammad, yaitu 1200 tahun yg lalu.

BUKTI MANUSKRIP MEMBANTAH QURAN

BUKTI ARKEOLOGIS
MELAWAN QURAN

Sampai kiamat-pun Muslimin bersikeras bahwa Quran adalah kata-kata final Tuhan. Namun, mana bukti sejarahnya? Bukti manuskrip, dan arkeologis semuanya tidak berhasil membuktikan klaim-klaim itu. Dlm tulisan paling akhir (Isa Masih no.6, p8-9) kami menunjukkan kekurangan-kekurangan dlm manuskrip-manuskrip Quran. Disini kami menunjukkan bukti melawan Islam dari sumber-sumber dokumen non-Muslim dan arkeologi modern.

SUMBER-SUMBER YAHUDI
Qur’an menyiratkan bahwa Muhamad memutuskan hubungannya dgn Yahudi thn 624 AD, segera setelah Hijrah ke Mekah. Pada saat itu, Kiblat dipindahkan dari Yerusalem ke Mekah (Surah 2:144, 149-150). Namun, dalam sumber-sumber non-Muslim, Doktrin Iacobi dan Kronikel Armenia dr thn 660 AD, menunjukkan bahwa pd tahun 640, saat penaklukan Palestina, Arab dan Yahudi adalah sekutu. Muhamad mendirikan masyarakat Ishmaeli dan Yahudi berdasarkan tanah kelahiran mereka yg sama di tanah suci. Hubungan baik ini berlangsung sampai paling tidak 15 tahun setelah tgl Quran tsb.

MEKAH
Menurut Qur’an, Mekah merupakan kota yang pertama dan paling penting di dunia. Adam menempatkan batu hitan di Ka’bah asli, sementara Abraham dan Ishmael membangun kembali Ka’bah Mekah berabad-abad kemudian (Sura 2:125-127). Mekah dikatakan sbg pusat perdagangan sebelum jamannya Muhamad.
Namun tidak ada bukti-bukti arkeologisnya. Kota kuno besar macam itu tentulah disebut-sebut dlm sejarah kuno. Namun, sebutan paling dini ttg Mekah sbg sebuah kota ada di Continuato Byzantia Arabica, dokumen abad ke 8! Mekah jelas bukan rute perdagangan daratan yg alami – Mekah adalah lembah gersang dan orang harus belok sepanjang 100 mil utk dapat mencapainya.Setelah abad pertama, hanya ada perdagangan maritim Yunani-Romawi dgn India, yg diawasi pelabuhan Laut Merah Ethiopia, Adulis, dan bukan oleh Arab. Kalau Mekah bukan sebuah kota yg mapan, kecuali setleah jamannya Muhamad, maka ini membuat Quran sangat diragukan.

ARKEOLOGI
Qiblat
Menurut Qur’an, Qiblat diarahkan ke Mekah pd thn 624 AD, dua tahun setelah Hijrah (Sura 2:144, 149-50). Namun bukti-bukti arkeologis paling dini dari mesjid yg dibangun pada permulaan abad ke 8 menunjukkan bahwa kota suci mereka bukanlah Mekah, tetapi lebih dekat ke arah Yerusalem.
Qiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, dibangun th 670 AD, dan menunjuk ke BARAT ketimbang ke selatan, gambar-gambar arsitektur dari dua mesjid Umayyad (650-750 AD) di Iraq, menunjukkan bahwa Qiblat berorientasi jauh ke utara. Mesjid Wasit melenceng sampai 33 derajad, mesjid Baghdad sampai 30 derajad. Mesjid ‘Amr b. al ‘As didekat Cairo, juga menunjuk ke Kiblat terlalu jauh ke utara dan harus diperbaiki oleh sang gubernur.
Jacob dari Odessa, penulis dan pengelana Kristen, merupakan saksi mata yg menulis ttg Mesir sekitar 705 AD. Suratnya dlm British Museum menyebut ttg kaum ‘Mahgraye’ (istilah Yunani bagi Arab) di Mesir berdoa menghadap ke timur, menuju Ka’bah, dgn kata lain menuju Palestina, dan bukan Mekah.
Jadi bukti menunjuk kpd lokasi bukan di Mekah, tetapi di Arab Utara atau bahkan Yerusalem, sampai permulaan abad ke 8. Tidak mungkin Muslim pada abad permulaan Islam salah menghitung arah. Mereka pedagang dari gurun pasir dan tukang caravan yang mahir membaca arah bintang di langit utk menentukan arah perjalanan mereka. Bgmn lagi mereka melakukan ibadah haji, yang pada saat itu saja sudah diresmikan? Ada ketidakcocokan besar antara Qur’an dan arkeologi modern. Yang paling penting, Walid I, kalif th 705 - 715, menulis kesemua wilayah memerintahkan penghancuran dan pelebaran semua mesjid. Mungkinkah bahwa saat itu Kiblat baru dipindahkan ke Mekah?

DOME OF THE ROCK
Kemungkinan alasan mengapa mesjid-mesjid kuno menghadap Palestina bisa ditemukan di Yerusalem. Di pusat kota itu terletak the ‘Dome of the Rock’, bangunan yg didirikan ‘Abd al-Malik th 691 AD. Ini dianggap sbg tempat Islam paling suci nomor 3 setelah Mekah dan Medinah. Gedung ini nampaknya bukan ingin digunakan sbg mesjid, karena tidak adanya Qiblat dan bentuk oktagonalnya menunjukkan gedung itu digunakan agar orang dapat berkeliling memutarinya. Muslim percaya bahwa ini memperingati Isra Mi’raj, malam Muhammad naik ke surga dan berbicara dgn Allah dan Musa mengenai jumlah solat yg diwajibkan kpd pengikut.
Namun, tulisan-tulisan pada tembok gedung itu tidak menyebut apa-apa ttg Isra Mi’raj tetapi kutipan-kutipan Quran yg dimaksudkan khususnya bagi Kristen. Mungkin gedung ini dibangun sbg tempat suci Islam, sebelum Mekah diresmikan sbg tempat tersuci Islam.
Tradisi Muslim memang menunjukkan bahwa the Dome of the Rock dulu memang pusat religius Islam. Kalif Suleyman, yg berkuasa sampai th 717 AD, pergi ke Mekah utk bertanya ttg ibadah Haji. Ia tidak puas dgn jawaban yg didapatkan dan memilih utk mengikuti ‘Abd al-Malik, yg pergi ke the Dome of the Rock.
Mungkinkah kiblat mesjid-mesjid pertama dulu diarahkan kepada the Dome of the Rock dibawah perintah Walid I pada permulaan abad ke 8?
Alm Yehuda Nevo dari Universitas Yerusalem men-survey ukiran-ukiran Arab pada batu-batu yg tersebar di gurun Negev dan Syro-Jordania. Risetnya memberikan gambaran berguna atas sejarah Muhammad dari sumber-sumber non-Muslim kontemporer.
Dlm teks religius dari jaman Sufyani (661-684 AD) ada sebuah kepercayaan monotheistic TETAPI TIDAK ADA RUJUKAN KPD MUHAMAD! Namanya hanya muncul setelah 690 AD. Tulisan Muhammad Rasulullah tampil pertama kali dlm uang keping Arab-Sassania dari th 690 AD, di Damascus. Lebih penting lagi, ketiga unsur kepercayaan kpd Tauhid, Muhamad Rasulullah dan rasul Allah wa-’abduhu (sifat kemanusiaan Yesus) ditemukan dlm tulisan ‘Abd al-Malik dlm the Dome of the Rock, tertgl 691 AD. Sebelum masa itu, prinsip-prinsip kepercayaan Muslim tidak dapat dipastikan.
Jadi selama 60 tahun penuh setelah kematian Muhamad, kalimat syahadat Arab TIDAK MENCAKUP MUHAMAD. Tetapi sebuah prinsip kepercayaan monotheis yg mengembangkan konsep Judaeo-Kristen dlm gaya literature khusus. Saat syahadat dgn nama Muhammad diberlakukan selama periode Marwanid (setelah 684 AD) tiba-tiba bentuk deklarasi itulah yg tampil sbg satu-satunya bentuk dlm dokumen-dokumen formal. Jadi peningkatan status Muhammad sbg nabi universal hanya terjadi pada akhir abad ke 7, lama setelah kematiannya!

QURAN
Jelas Qur’an mengalami transformasi selama 100 tahun setelah kematiannya. Tulisan-tulisan yg dikenal sbg tulisan Quran pada keping-keping dan di the Dome of the Rock selama masa ‘Abd al-Malik dari 685 AD, BERBEDA dgn teks Quran sekarang. Qur’an tidak mungkin dikanonisasi selama masa hidup Muhamad, tetapi pasti mengalami proses evolusi. Rujukan paling dini kpd sebuah buku yg dinamakan Qur’an tidak datang dari Mekah melainkan di Arab Utara, bahkan Yerusalem, pada permulaan abad 8. Tidak mungkin Muslim pertama salah tebak arah Mekah, mereka mahir menggunakan bintang sbg penunjuk jalan. Bgm mungkin mereka bisa mengadakan ibadah haji yg sudah dikanonisasikan pada jaman itu?
Ada kepincangan besar antara Qur’an dan arkeologi modern. Artinya, sejarah islam runtuh di hadapan arkeologi modern.

Crucially, Walid I, who reigned as Caliph between 705 and 715, wrote to all the regions order’an maintains is at odds with historical data from the 7th-8th centuries. Specifically:
  • The Jews retained a relationship with the Arabs until at least AD 640, not 624 AD
  • Mecca was not the first and most important city in the world; it was unknown until the end of the 7th century and was not even on the international trade route
  • The Qibla (direction of prayer) was not fixed towards Mecca until the 8th century but to an area further north, possibly Jerusalem
  • The Dome of the Rock in Jerusalem was possibly the original sanctuary
  • Muhammad was not known as the Seal of the Prophets until the late 7th century; the creeds from Muhammad's time contain a monotheistic religion but no Muhammadan formulae
  • The earliest we even hear of the Qur’an is not until the mid-8th century
  • The earliest qur’anic writings on coins and on the Dome of the Rock do not coincide with the current qur’anic text This suggests the Qur’an we now read is not the same as that which was supposedly collated and canonized in 650 AD by Uthman. The earliest qur’anic manuscripts in our possession today (dating from 790 AD) would appear to reflect an evolution in the qur’anic text. This challenges the Muslim contention that the Qur’an contains the original and exact revelation of Allah, as recited by Muhammad and hence strikes at the very heart of the Islamic faith.

Dimasa lalu Qur’an dilindungi dgn semacam embargo – tetapi kini Muslim tidak lagi dapat berkelit dari bukti-bukti yg semakin menumpuk yg justru melemahkan Quran.
Diadaptasi dari artikel-artikel Jay Smith; lihat di links berikut:
gambar
Kehebohan baru yang bakal mengguncangkan umat Islam datang dari Doktor Gerd R. Puin, seorang pakar filologi dan ahli bahasa-bahasa Semitis. Pada 1979, pakar kaligrafi Arab dan paleografi Alquran dari Universitas Sarre, Jerman, itu diajak Kadi Ismail al-Akwa, Ketua Dinas Purbakala Yaman, untuk meneliti sebuah bungkusan kuno yang ditemukan di Sana'a, ibu kota Yaman, pada 1972. Bungkusan berisi perkamen (kulit kambing) dan kertas (suhuf) itu ditemukan saat pemerintah merenovasi masjid kuno di Sana'a, yang bocor akibat hujan lebat.
Paket kuno yang ditemukan para pekerja di atap masjid agung itu kemudian diamankan Kadi Ismail al-Akwa karena ia yakin isinya pasti bernilai. Ia lalu meminta bantuan internasional untuk menganalisis tulisan di atas perkamen itu. Akhirnya, baru pada 1979 ia berhasil membujuk Puin untuk menelitinya, dengan bantuan dana dari Pemerintah Jerman.
Berdasarkan penelitian awal, bisa dipastikan, perkamen Sana'a itu adalah mushaf Alquran paling tua di dunia, yang ditulis pada abad ketujuh dan kedelapan. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini, ada tiga "copy" mushaf Alquran sudah ditemukan. Dua mushaf Alquran abad kedelapan, masing-masing disimpan di Perpustakaan Tashkent, Uzbekistan, dan di Museum Topkapi di Istanbul. Sementara, mushaf ketiga berupa manuskrip Ma'il dari abad ketujuh, disimpan di British Library, London, Inggris.
Menurut Doktor Puin, kaligrafi pada mushaf Sana'a itu berasal dari Hijaz, sebuah wilayah Arab, tempat tinggal Muhammad. Dengan demikian, itu bukan hanya merupakan mushaf tertua di dunia, melainkan salah satu mushaf versi pertama. Perkamen itu mengandung variasi teks yang agak berbeda, surat-suratnya disusun tak biasa, dan gaya serta grafisnya sangat langka. Ia juga melihat adanya jejak teks yang dihapus dan digantikan dengan teks baru. Karena itulah, Puin menyimpulkan, Alquran pernah mengalami evolusi (perubahan) tekstual. "Dengan kata lain, apa yang umat islam baca saat ini kemungkinan bukan satu-satunya "versi" yang diyakini telah diwahyukan auwloh kepada muhammad," tulis Abul Taher, pekan lalu, dalam koran Inggris, The Guardian.
Kesimpulan Puin itu tentu saja akan sulit diterima umat Islam. Sebab, diyakini ayat-ayat dalam Alquran itu diwahyukan auwloh kepada Muhammad secara bertahap (610-632). Dan, setiap menerima wahyu, muhammad selalu membacakannya di hadapan para sahabat. Menurut Ensiklopedi Islam (Jakarta, 1994), selain menyuruh para sahabatnya menghafal, muhammad juga memerintahkan mereka untuk menuliskannya di atas pelepah kurma, lempengan batu, atau kepingan tulang.
Menurut hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, untuk menjaga kemurnian Alquran itu, setiap tahun malaikat Jibril mendatangi kawan kita si mamad alias muhammad untuk memeriksa bacaannya. Bahkan pada tahun muhammad mati, malaikat Jibril datang dua kali dan mengontrol bacaan muhammad, sebagaimana si mamad sendiri selalu melakukan hal yang sama kepada para kawannya, selama hidupnya. Dengan demikian, terpeliharalah Alquran dari kesalahan dan kekeliruan.
Dua puluh sembilan tahun setelah si muhammad mati, di bawah Usman, khalifah ketiga, sebuah versi baku Alquran ditetapkan dan dikodifikasi dalam bentuk buku, akibat adanya pelbagai versi Alquran, baik lisan maupun tertulis, yang banyak beredar di wilayah kekuasaan Islam. Kodifikasi itu dilakukan berdasarkan mushaf yang dihimpun Khalifah Abu Bakar, yang kemudian disimpan di rumah Hafsah, putri Khalifah Umar, yang juga salah satu istri si mamad kawan kita yg hobi poligami. Karena itu, tak pernah ada lagi modifikasi dan kodifikasi Alquran sesudah Usman, yang disusun di bawah pimpinan Zaid bin Sabit. Mushaf Usmani dalam dialek Quraisy itu lalu dibuat lima kopi. Satu kopi disimpan di Madinah (mushaf al-Imam) dan empat lainnya dikirim ke Mekah, Suriah, Basrah, dan Kufah untuk disalin dan diperbanyak (EI, 1994).
Apakah perkamen dari Sana'a itu adalah salah satu dari mushaf-mushaf itu, atau salinannya, belum bisa dipastikan. Yang jelas, menurut Puin, sebagaimana dalam tradisi literatur Arab, perkamen Sana'a itu ditulis tanpa tanda-tanda diacritique (titik, aksen, koma, tanda huruf atau fonetik pengubah nilai). Artinya, perkamen itu ditulis lebih sebagai panduan bagi yang sudah hafal Alquran. Akibatnya, puluhan tahun kemudian, pembaca "Arab gundul" itu makin sulit memahaminya. Karena itulah, untuk memudahkan, Hajjaj bin-Yusuf, Gubernur Irak, pada 694-714, lantas melengkapi teks itu dengan pelbagai tanda. "Ia sangat bangga karena ia telah berhasil memasukkan lebih dari 1.000 alif ke dalam teks Alquran," kata Puin.
Kesimpulan Puin yang juga mengejutkan adalah: sumber-sumber pra-Islam, katanya, telah dimasukkan ke dalam Alquran. Misalnya, ihwal As Sahab ar-Rass dan As Sahab al-Aiqa. Soalnya, menurut Geographie karya Ptolomeus, suku Ar Rass hidup di Lebanon sebelum Islam, dan Al Aiqa hidup di wilayah Aswan, Mesir, sekitar 150 tahun sebelum Masehi. Bahkan, Puin tidak yakin Alquran ditulis dalam bahasa Arab murni. Sebab, kata "Quran" sendiri -- yang berarti "kalam", "kitab", "bacaan" -- menurut Puin, bukan berasal dr bahasa/kata arab melainkan berasal dari sebuah kata Aramian, “Qariyun” (penggalan bacaan teks suci saat menjalankan ibadah).
Tak aneh bila Khalidi (?who?) gusar atas usaha para Islamolog Barat seperti Puin, yang tak selalu menganalisis Alquran sebagaimana mereka melakukannya terhadap Injil. Khalidi bahkan cemas bila hasil penelitian Puin itu disebarluaskan, ia akan bisa dihukum oleh umat Islam, sebagaimana dialami Salman Rushdie akibat novelnya, Ayat-Ayat Setan (1988). Atau dihukum seperti Doktor Nasr Abu Zaid, dosen ilmu Alquran dari Universitas Kairo, pada 1995, akibat karyanya Le Concept du Texte (1990), menyatakan, "Alquran hanyalah teks sastra, dan satu-satunya cara untuk memahami, menerangkan, menganalisis, dan mengadaptasinya hanyalah melalui pendekatan sastra."
Toh, Salim Abdullah, Direktur Arsip Islam Jerman, yang berafiliasi pada Liga Islam Dunia, menanggapi kesimpulan Puin dengan sikap positif. "Doktor Puin sebelumnya telah meminta izin kepada saya,
apakah ia boleh mempublikasikan salah satu karangannya tentang dokumen Sana'a. Ketika saya memperingatkan bahwa ia akan menghadapi kontroversi, Puin mengatakan, sudah lama ia menunggu adanya perdebatan mengenai hal itu," kata Salim. Padahal, sebelumnya, akibat kesimpulannya yang mengejutkan itu, Puin sendiri segera diusir dari Yaman dan ia dilarang melanjutkan penelitiannya.
Copyright © 2000 Forum Cyber News. All rights reserved.

CRAIG WINN menulis dlm situsnya, PROPHET OF DOOM:
... Muslim juga akan menemukan bahwa penulisan Quran sangat kacau. Banyak kata-kata yg tidak berarti, kata-kata asing, kata-kata yg hilang sehingga menyulitkan terjemahan — siapapun perlu menebak apa yg dipikirkan Muhammad utk mengerti apa yg dikatakan auwloh. Itulah mengapa Gerd Puin, pakar ternama dlm bidang kaligrafi Arab dan paleografi Quran, mempelajari manuskrip-manuskrip tertua kecewa dgn keengganan Muslim dan non-Muslim utk menerima dogma Islam.
Katanya: “Quran menyatakan diri sbg ‘mubeen,’ atau jelas, tapi dari pandangan sekilas saja kau akan melihat bahwa setiap kalimat kelima tidak masuk akal. Tentu Muslim tidak akan mengatakan padamu bahwa pada kenyataan, seperlima isi Qur’an sama sekali tidak dapat dimengerti. Inilah yg mengakibatkan tradisi senewennya Muslim. Jika Qur’an tidak dapat dimengerti, bahkan tidak dapat dimengerti dalam bahasa Arab sekalipun, maka Quran tidak dapat diterjemahkan dlm bahasa manapun. Itulah mengapa Muslim sangat ketakutan.”