BUKTI ARKEOLOGIS
MELAWAN QURAN
MELAWAN QURAN
Sampai
kiamat-pun Muslimin bersikeras bahwa Quran adalah kata-kata final
Tuhan. Namun, mana bukti sejarahnya? Bukti manuskrip, dan arkeologis
semuanya tidak berhasil membuktikan klaim-klaim itu. Dlm tulisan paling
akhir (Isa Masih no.6, p8-9) kami menunjukkan kekurangan-kekurangan dlm
manuskrip-manuskrip Quran. Disini kami menunjukkan bukti melawan Islam
dari sumber-sumber dokumen non-Muslim dan arkeologi modern.
SUMBER-SUMBER YAHUDI
Qur’an
menyiratkan bahwa Muhamad memutuskan hubungannya dgn Yahudi thn 624 AD,
segera setelah Hijrah ke Mekah. Pada saat itu, Kiblat dipindahkan dari
Yerusalem ke Mekah (Surah 2:144, 149-150). Namun, dalam sumber-sumber
non-Muslim, Doktrin Iacobi dan Kronikel Armenia dr thn 660 AD,
menunjukkan bahwa pd tahun 640, saat penaklukan Palestina, Arab dan
Yahudi adalah sekutu. Muhamad mendirikan masyarakat Ishmaeli dan Yahudi
berdasarkan tanah kelahiran mereka yg sama di tanah suci. Hubungan baik
ini berlangsung sampai paling tidak 15 tahun setelah tgl Quran tsb.
MEKAH
Menurut
Qur’an, Mekah merupakan kota yang pertama dan paling penting di dunia.
Adam menempatkan batu hitan di Ka’bah asli, sementara Abraham dan
Ishmael membangun kembali Ka’bah Mekah berabad-abad kemudian (Sura
2:125-127). Mekah dikatakan sbg pusat perdagangan sebelum jamannya
Muhamad.
Namun
tidak ada bukti-bukti arkeologisnya. Kota kuno besar macam itu tentulah
disebut-sebut dlm sejarah kuno. Namun, sebutan paling dini ttg Mekah
sbg sebuah kota ada di Continuato Byzantia Arabica, dokumen abad ke 8!
Mekah jelas bukan rute perdagangan daratan yg alami – Mekah adalah
lembah gersang dan orang harus belok sepanjang 100 mil utk dapat
mencapainya.Setelah abad pertama, hanya ada perdagangan maritim
Yunani-Romawi dgn India, yg diawasi pelabuhan Laut Merah Ethiopia,
Adulis, dan bukan oleh Arab. Kalau Mekah bukan sebuah kota yg mapan,
kecuali setleah jamannya Muhamad, maka ini membuat Quran sangat
diragukan.
ARKEOLOGI
Qiblat
Menurut
Qur’an, Qiblat diarahkan ke Mekah pd thn 624 AD, dua tahun setelah
Hijrah (Sura 2:144, 149-50). Namun bukti-bukti arkeologis paling dini
dari mesjid yg dibangun pada permulaan abad ke 8 menunjukkan bahwa kota
suci mereka bukanlah Mekah, tetapi lebih dekat ke arah Yerusalem.
Qiblat
mesjid pertama di Kufa, Iraq, dibangun th 670 AD, dan menunjuk ke BARAT
ketimbang ke selatan, gambar-gambar arsitektur dari dua mesjid Umayyad
(650-750 AD) di Iraq, menunjukkan bahwa Qiblat berorientasi jauh ke
utara. Mesjid Wasit melenceng sampai 33 derajad, mesjid Baghdad sampai
30 derajad. Mesjid ‘Amr b. al ‘As didekat Cairo, juga menunjuk ke Kiblat
terlalu jauh ke utara dan harus diperbaiki oleh sang gubernur.
Jacob
dari Odessa, penulis dan pengelana Kristen, merupakan saksi mata yg
menulis ttg Mesir sekitar 705 AD. Suratnya dlm British Museum menyebut
ttg kaum ‘Mahgraye’ (istilah Yunani bagi Arab) di Mesir berdoa menghadap
ke timur, menuju Ka’bah, dgn kata lain menuju Palestina, dan bukan
Mekah.
Jadi
bukti menunjuk kpd lokasi bukan di Mekah, tetapi di Arab Utara atau
bahkan Yerusalem, sampai permulaan abad ke 8. Tidak mungkin Muslim pada
abad permulaan Islam salah menghitung arah. Mereka pedagang dari gurun
pasir dan tukang caravan yang mahir membaca arah bintang di langit utk
menentukan arah perjalanan mereka. Bgmn lagi mereka melakukan ibadah
haji, yang pada saat itu saja sudah diresmikan? Ada ketidakcocokan besar
antara Qur’an dan arkeologi modern. Yang paling penting, Walid I, kalif
th 705 - 715, menulis kesemua wilayah memerintahkan penghancuran dan
pelebaran semua mesjid. Mungkinkah bahwa saat itu Kiblat baru
dipindahkan ke Mekah?
DOME OF THE ROCK
Kemungkinan
alasan mengapa mesjid-mesjid kuno menghadap Palestina bisa ditemukan di
Yerusalem. Di pusat kota itu terletak the ‘Dome of the Rock’, bangunan
yg didirikan ‘Abd al-Malik th 691 AD. Ini dianggap sbg tempat Islam
paling suci nomor 3 setelah Mekah dan Medinah. Gedung ini nampaknya
bukan ingin digunakan sbg mesjid, karena tidak adanya Qiblat dan bentuk
oktagonalnya menunjukkan gedung itu digunakan agar orang dapat
berkeliling memutarinya. Muslim percaya bahwa ini memperingati Isra
Mi’raj, malam Muhammad naik ke surga dan berbicara dgn Allah dan Musa
mengenai jumlah solat yg diwajibkan kpd pengikut.
Namun,
tulisan-tulisan pada tembok gedung itu tidak menyebut apa-apa ttg Isra
Mi’raj tetapi kutipan-kutipan Quran yg dimaksudkan khususnya bagi
Kristen. Mungkin gedung ini dibangun sbg tempat suci Islam, sebelum
Mekah diresmikan sbg tempat tersuci Islam.
Tradisi
Muslim memang menunjukkan bahwa the Dome of the Rock dulu memang pusat
religius Islam. Kalif Suleyman, yg berkuasa sampai th 717 AD, pergi ke
Mekah utk bertanya ttg ibadah Haji. Ia tidak puas dgn jawaban yg
didapatkan dan memilih utk mengikuti ‘Abd al-Malik, yg pergi ke the Dome
of the Rock.
Mungkinkah
kiblat mesjid-mesjid pertama dulu diarahkan kepada the Dome of the Rock
dibawah perintah Walid I pada permulaan abad ke 8?
Alm
Yehuda Nevo dari Universitas Yerusalem men-survey ukiran-ukiran Arab
pada batu-batu yg tersebar di gurun Negev dan Syro-Jordania. Risetnya
memberikan gambaran berguna atas sejarah Muhammad dari sumber-sumber
non-Muslim kontemporer.
Dlm
teks religius dari jaman Sufyani (661-684 AD) ada sebuah kepercayaan
monotheistic TETAPI TIDAK ADA RUJUKAN KPD MUHAMAD! Namanya hanya muncul
setelah 690 AD. Tulisan Muhammad Rasulullah tampil pertama kali dlm uang
keping Arab-Sassania dari th 690 AD, di Damascus. Lebih penting lagi,
ketiga unsur kepercayaan kpd Tauhid, Muhamad Rasulullah dan rasul Allah
wa-’abduhu (sifat kemanusiaan Yesus) ditemukan dlm tulisan ‘Abd al-Malik
dlm the Dome of the Rock, tertgl 691 AD. Sebelum masa itu,
prinsip-prinsip kepercayaan Muslim tidak dapat dipastikan.
Jadi
selama 60 tahun penuh setelah kematian Muhamad, kalimat syahadat Arab
TIDAK MENCAKUP MUHAMAD. Tetapi sebuah prinsip kepercayaan monotheis yg
mengembangkan konsep Judaeo-Kristen dlm gaya literature khusus. Saat
syahadat dgn nama Muhammad diberlakukan selama periode Marwanid (setelah
684 AD) tiba-tiba bentuk deklarasi itulah yg tampil sbg satu-satunya
bentuk dlm dokumen-dokumen formal. Jadi peningkatan status Muhammad sbg
nabi universal hanya terjadi pada akhir abad ke 7, lama setelah
kematiannya!
QURAN
Jelas
Qur’an mengalami transformasi selama 100 tahun setelah kematiannya.
Tulisan-tulisan yg dikenal sbg tulisan Quran pada keping-keping dan di
the Dome of the Rock selama masa ‘Abd al-Malik dari 685 AD, BERBEDA
dgn teks Quran sekarang. Qur’an tidak mungkin dikanonisasi selama masa
hidup Muhamad, tetapi pasti mengalami proses evolusi. Rujukan paling
dini kpd sebuah buku yg dinamakan Qur’an tidak datang dari Mekah
melainkan di Arab Utara, bahkan Yerusalem, pada permulaan abad 8. Tidak
mungkin Muslim pertama salah tebak arah Mekah, mereka mahir menggunakan
bintang sbg penunjuk jalan. Bgm mungkin mereka bisa mengadakan ibadah
haji yg sudah dikanonisasikan pada jaman itu?
Ada kepincangan besar antara Qur’an dan arkeologi modern. Artinya, sejarah islam runtuh di hadapan arkeologi modern.
Crucially,
Walid I, who reigned as Caliph between 705 and 715, wrote to all the
regions order’an maintains is at odds with historical data from the
7th-8th centuries. Specifically:
- The Jews retained a relationship with the Arabs until at least AD 640, not 624 AD
- Mecca was not the first and most important city in the world; it was unknown until the end of the 7th century and was not even on the international trade route
- The Qibla (direction of prayer) was not fixed towards Mecca until the 8th century but to an area further north, possibly Jerusalem
- The Dome of the Rock in Jerusalem was possibly the original sanctuary
- Muhammad was not known as the Seal of the Prophets until the late 7th century; the creeds from Muhammad's time contain a monotheistic religion but no Muhammadan formulae
- The earliest we even hear of the Qur’an is not until the mid-8th century
- The earliest qur’anic writings on coins and on the Dome of the Rock do not coincide with the current qur’anic text This suggests the Qur’an we now read is not the same as that which was supposedly collated and canonized in 650 AD by Uthman. The earliest qur’anic manuscripts in our possession today (dating from 790 AD) would appear to reflect an evolution in the qur’anic text. This challenges the Muslim contention that the Qur’an contains the original and exact revelation of Allah, as recited by Muhammad and hence strikes at the very heart of the Islamic faith.
Dimasa
lalu Qur’an dilindungi dgn semacam embargo – tetapi kini Muslim tidak
lagi dapat berkelit dari bukti-bukti yg semakin menumpuk yg justru
melemahkan Quran.
Diadaptasi dari artikel-artikel Jay Smith; lihat di links berikut:
gambar
Kehebohan
baru yang bakal mengguncangkan umat Islam datang dari Doktor Gerd R.
Puin, seorang pakar filologi dan ahli bahasa-bahasa Semitis. Pada 1979,
pakar kaligrafi Arab dan paleografi Alquran dari Universitas Sarre,
Jerman, itu diajak Kadi Ismail al-Akwa, Ketua Dinas Purbakala Yaman,
untuk meneliti sebuah bungkusan kuno yang ditemukan di Sana'a, ibu kota
Yaman, pada 1972. Bungkusan berisi perkamen (kulit kambing) dan kertas
(suhuf) itu ditemukan saat pemerintah merenovasi masjid kuno di Sana'a,
yang bocor akibat hujan lebat.
Paket
kuno yang ditemukan para pekerja di atap masjid agung itu kemudian
diamankan Kadi Ismail al-Akwa karena ia yakin isinya pasti bernilai. Ia
lalu meminta bantuan internasional untuk menganalisis tulisan di atas
perkamen itu. Akhirnya, baru pada 1979 ia berhasil membujuk Puin untuk
menelitinya, dengan bantuan dana dari Pemerintah Jerman.
Berdasarkan
penelitian awal, bisa dipastikan, perkamen Sana'a itu adalah mushaf
Alquran paling tua di dunia, yang ditulis pada abad ketujuh dan
kedelapan. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini, ada tiga "copy"
mushaf Alquran sudah ditemukan. Dua mushaf Alquran abad kedelapan,
masing-masing disimpan di Perpustakaan Tashkent, Uzbekistan, dan di
Museum Topkapi di Istanbul. Sementara, mushaf ketiga berupa manuskrip
Ma'il dari abad ketujuh, disimpan di British Library, London, Inggris.
Menurut
Doktor Puin, kaligrafi pada mushaf Sana'a itu berasal dari Hijaz,
sebuah wilayah Arab, tempat tinggal Muhammad. Dengan demikian, itu bukan
hanya merupakan mushaf tertua di dunia, melainkan salah satu mushaf
versi pertama. Perkamen itu mengandung variasi teks yang agak berbeda,
surat-suratnya disusun tak biasa, dan gaya serta grafisnya sangat
langka. Ia juga melihat adanya jejak teks yang dihapus dan digantikan dengan teks baru. Karena itulah, Puin menyimpulkan, Alquran pernah mengalami evolusi (perubahan) tekstual.
"Dengan kata lain, apa yang umat islam baca saat ini kemungkinan bukan
satu-satunya "versi" yang diyakini telah diwahyukan auwloh kepada
muhammad," tulis Abul Taher, pekan lalu, dalam koran Inggris, The
Guardian.
Kesimpulan
Puin itu tentu saja akan sulit diterima umat Islam. Sebab, diyakini
ayat-ayat dalam Alquran itu diwahyukan auwloh kepada Muhammad secara
bertahap (610-632). Dan, setiap menerima wahyu, muhammad selalu
membacakannya di hadapan para sahabat. Menurut Ensiklopedi Islam
(Jakarta, 1994), selain menyuruh para sahabatnya menghafal, muhammad
juga memerintahkan mereka untuk menuliskannya di atas pelepah kurma,
lempengan batu, atau kepingan tulang.
Menurut
hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, untuk menjaga kemurnian
Alquran itu, setiap tahun malaikat Jibril mendatangi kawan kita si mamad
alias muhammad untuk memeriksa bacaannya. Bahkan pada tahun muhammad
mati, malaikat Jibril datang dua kali dan mengontrol bacaan muhammad,
sebagaimana si mamad sendiri selalu melakukan hal yang sama kepada para
kawannya, selama hidupnya. Dengan demikian, terpeliharalah Alquran dari
kesalahan dan kekeliruan.
Dua
puluh sembilan tahun setelah si muhammad mati, di bawah Usman, khalifah
ketiga, sebuah versi baku Alquran ditetapkan dan dikodifikasi dalam
bentuk buku, akibat adanya pelbagai versi Alquran, baik lisan maupun
tertulis, yang banyak beredar di wilayah kekuasaan Islam. Kodifikasi itu
dilakukan berdasarkan mushaf yang dihimpun Khalifah Abu Bakar, yang
kemudian disimpan di rumah Hafsah, putri Khalifah Umar, yang juga salah
satu istri si mamad kawan kita yg hobi poligami. Karena itu, tak pernah
ada lagi modifikasi dan kodifikasi Alquran sesudah Usman, yang disusun
di bawah pimpinan Zaid bin Sabit. Mushaf Usmani dalam dialek Quraisy itu
lalu dibuat lima kopi. Satu kopi disimpan di Madinah (mushaf al-Imam)
dan empat lainnya dikirim ke Mekah, Suriah, Basrah, dan Kufah untuk
disalin dan diperbanyak (EI, 1994).
Apakah
perkamen dari Sana'a itu adalah salah satu dari mushaf-mushaf itu, atau
salinannya, belum bisa dipastikan. Yang jelas, menurut Puin,
sebagaimana dalam tradisi literatur Arab, perkamen Sana'a itu ditulis
tanpa tanda-tanda diacritique (titik, aksen, koma, tanda huruf
atau fonetik pengubah nilai). Artinya, perkamen itu ditulis lebih
sebagai panduan bagi yang sudah hafal Alquran. Akibatnya, puluhan tahun
kemudian, pembaca "Arab gundul" itu makin sulit memahaminya. Karena
itulah, untuk memudahkan, Hajjaj bin-Yusuf, Gubernur Irak, pada 694-714,
lantas melengkapi teks itu dengan pelbagai tanda. "Ia sangat bangga
karena ia telah berhasil memasukkan lebih dari 1.000 alif ke dalam teks
Alquran," kata Puin.
Kesimpulan
Puin yang juga mengejutkan adalah: sumber-sumber pra-Islam, katanya,
telah dimasukkan ke dalam Alquran. Misalnya, ihwal As Sahab ar-Rass dan
As Sahab al-Aiqa. Soalnya, menurut Geographie karya Ptolomeus, suku Ar
Rass hidup di Lebanon sebelum Islam, dan Al Aiqa hidup di wilayah Aswan,
Mesir, sekitar 150 tahun sebelum Masehi. Bahkan, Puin tidak yakin
Alquran ditulis dalam bahasa Arab murni. Sebab, kata "Quran"
sendiri -- yang berarti "kalam", "kitab", "bacaan" -- menurut Puin,
bukan berasal dr bahasa/kata arab melainkan berasal dari sebuah kata
Aramian, “Qariyun” (penggalan bacaan teks suci saat menjalankan ibadah).
Tak aneh bila Khalidi (?who?)
gusar atas usaha para Islamolog Barat seperti Puin, yang tak selalu
menganalisis Alquran sebagaimana mereka melakukannya terhadap Injil.
Khalidi bahkan cemas bila hasil penelitian Puin itu disebarluaskan, ia
akan bisa dihukum oleh umat Islam, sebagaimana dialami Salman Rushdie
akibat novelnya, Ayat-Ayat Setan (1988). Atau dihukum seperti Doktor
Nasr Abu Zaid, dosen ilmu Alquran dari Universitas Kairo, pada 1995,
akibat karyanya Le Concept du Texte (1990), menyatakan, "Alquran
hanyalah teks sastra, dan satu-satunya cara untuk memahami, menerangkan,
menganalisis, dan mengadaptasinya hanyalah melalui pendekatan sastra."
Toh,
Salim Abdullah, Direktur Arsip Islam Jerman, yang berafiliasi pada Liga
Islam Dunia, menanggapi kesimpulan Puin dengan sikap positif. "Doktor
Puin sebelumnya telah meminta izin kepada saya,
apakah
ia boleh mempublikasikan salah satu karangannya tentang dokumen Sana'a.
Ketika saya memperingatkan bahwa ia akan menghadapi kontroversi, Puin
mengatakan, sudah lama ia menunggu adanya perdebatan mengenai hal itu,"
kata Salim. Padahal, sebelumnya, akibat kesimpulannya yang mengejutkan
itu, Puin sendiri segera diusir dari Yaman dan ia dilarang melanjutkan
penelitiannya.
Copyright © 2000 Forum Cyber News. All rights reserved.
...
Muslim juga akan menemukan bahwa penulisan Quran sangat kacau. Banyak
kata-kata yg tidak berarti, kata-kata asing, kata-kata yg hilang
sehingga menyulitkan terjemahan — siapapun perlu menebak apa yg
dipikirkan Muhammad utk mengerti apa yg dikatakan auwloh. Itulah mengapa
Gerd Puin, pakar ternama dlm bidang kaligrafi Arab dan paleografi
Quran, mempelajari manuskrip-manuskrip tertua kecewa dgn keengganan
Muslim dan non-Muslim utk menerima dogma Islam.
Katanya: “Quran menyatakan diri sbg ‘mubeen,’
atau jelas, tapi dari pandangan sekilas saja kau akan melihat bahwa
setiap kalimat kelima tidak masuk akal. Tentu Muslim tidak akan
mengatakan padamu bahwa pada kenyataan, seperlima isi Qur’an sama sekali
tidak dapat dimengerti. Inilah yg mengakibatkan tradisi senewennya
Muslim. Jika Qur’an tidak dapat dimengerti, bahkan tidak dapat
dimengerti dalam bahasa Arab sekalipun, maka Quran tidak dapat
diterjemahkan dlm bahasa manapun. Itulah mengapa Muslim sangat
ketakutan.”
Kalau memang ada kesalahan dalam Al-Qur'an coba buktikan!! Cmn nulis gitu aja tpi gak ada contoh ayatx jelas" tdk bisa membuktikan. itu orang yg nulis jelas" tidak tempe bhs arab. Dan satu lagi Jika ada Kata" di Al-qur'an yg kurang jelas, ada hadits" yg lebih memperjelasx!!!
BalasHapus