Kesaksian Athet
Pyan Shinthaw Paulu – (Budha Masuk Kristen)
Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami
menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Saking banyaknya ikan yang kami
tangkap, seekor buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu
kami dan mencoba menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami
mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami
dan menyerang perahu kami dengan ekornya. Walaupun tidak ada yang mati dalam
kejadian ini, serangan itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi
menangkap ikan. Perahu kecil kami tenggelam kena serangan buaya itu. Malam itu
kami pulang ke kampung naik perahu tumpangan. Tak lama sesudah itu, bos ayah
saya memindahkan ayah saya ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon).
Pada umur 18 saya dikirim kesebuah biara
menjadi Rahib muda. Kebanyakan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak laki-laki
mereka ke biara Budha, setidaknya satu kali, karena merupakan suatu kehormatan
mempunyai anak laki-laki melayani dengan cara ini. Kami telah mengikuti adat
ini ratusan tahun. Seorang murid yang bersemangat Pada saat saya mencapai umur
19 tahun 3 bulan (tahun 1977) saya jadi Rahib. Rahib atasan saya di biara itu
memberi saya sebuah nama Budha baru yang sudah menjadi adat/kebiasaan di negara
saya. Saya dipanggil U Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib
kami tidak lagi menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir. Biara
tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing. Nama Rahib kepala ialah U
Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia Rahib yang sangat
terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia. Dia
sangat dihargai oleh orang-orang dan disegani sebagai guru besar. Saya katakan
dulu karena pada tahun 1983 dia tiba-tiba mati dalam kecelakaan mobil yang
fatal. Kematiannya mengejuntukan semua orang. Saat itu saya sudah 6 tahun jadi Rahib.
Saya berusaha jadi Rahib terbaik dan mengikuti semua ajaran Budha. Pada suatu
tingkat tertentu saya pindah ke sebuah kuburan yang kemudian saya tinggali dan
bermeditasi secara kontinyu. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti
kebenaran Budha melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan pindah ke
hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin. Saya cari penyangkalan
diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari penyakit dan penderitaan dan
membebaskan diri dari kehidupan duniawi. Di kuburan saya tidak takut setan,
saya berusaha untuk mencapai kadamaian batin dan sadar diri sampai sampai bila
ada nyamuk hinggap ditangan saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya.
Bertahun-tahun saya berusaha untuk jadi Rahib
terbaik dan tidak menyakiti mahluk hidup. Saya belajar pelajaran Budha suci ini
seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai Rahib
berjalan terus sampai suatu waktu saya menderita sakit keras. Saya ada di
Mandalay waktu itu dan harus dibawa kerumah sakit untuk perawatan. Dokter
melakukan beberapa pengecekan pada saya dan memberitahu saya bahwa saya terjangkit
penyakit kuning dan malaria bersamaan. Sesudah sebulan di rumah sakit saya
malah makin gawat. Dokter memberi tahu saya bahwa tak ada harapan sembuh untuk
saya dan mengeluarkan saya dari rumah sakit untuk mempersiapkan kematian. Inilah
penjelasan singkat masa lalu saya.
Sekarang saya ingin menceritakan beberapa hal
luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya. Penglihatan Yang Mengubah Hidup
Saya Selamanya Sesudah saya dikeluarkan dari rumah sakit saya kembali ke tempat
di mana para Rahib yang lain mengurus saya. Saya makin hari makin lemah dan
makin susut karena badan busuk dan bau kematian, dan akhrinya jantung saya
berhenti berdenyut. Tubuh saya dipersiapkan untuk kremasi dan melalui tata cara
pemurnian agama Budha. Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat dan sadar dalam
fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang meniup seluruh
daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya
berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama. Tak ada orang
lain, hanya saya sendiri, kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang
sungai itu saya melihat danau api yang sangat sangat besar. Dalam agama Budha
kami tidak ada gambaran tempat seperti ini. Pada mulanya saya bingung dan tak tahu
bahwa itu adalah neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama
untuk raja neraka dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa, badannya
seperti singa , tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai
beberapa tanduk di kepalanya. Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat
ketakutan. Dengan gemetar, saya tanya namanya. Dia jawab "Saya adalah raja
neraka, si Perusak!" Danau Api Yang Sangat Mengerikan Raja neraka memberi
tahu saya untuk melihat ke danau api itu.
Saya memandang dan melihat jubah warna kunyit
yang biasa dipakai rahib Budha di Myanmar. Saya memandang dan melihat kepala
gundul seorang laki-laki. Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya
sebagai U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kecelakaan mobil
tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau penyiksaan
ini. Saya tanya "Mengapa dia ada dalam danau api ini? Dia seorang guru
yang baik." Dia bahkan mempunyai kaset pengajaran yang berjudul 'Apakah
anda manusia atau anjing?' Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahwa
sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang. Raja neraka itu
menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya
pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya dia ada di neraka." Saya diberi tahu
untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki
dengan rambut panjang dililitkan dibagian kiri kepalanya. Dia juga mengenakan
jubah. Saya tanya raja neraka "Siapa orang itu?" Dia menjawab,
"Inilah yang kau sembah, Gautama (Budha)". Saya sangat terganggu
melihat Gautama di neraka. Saya protes, "Gautama orang baik, mempunyai
karakter moral yang baik, mengapa dia menderita di dalam danau api ini?"
Raja neraka menjawab saya "Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di
tempat ini karena dia tidak percaya pada Allah yang kekal" Saya kemudian
melihat seorang yang lain yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka
di dada-nya. Saya tanya "Siapa dia?" Raja neraka berkata "Ini
Aung San, pemimpin revolusi Myanmar ". Saya kemudian diberi tahu,
"Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen,
tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus." Di Myanmar ada
pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus." Saya diberitahu bahwa
tentara neraka mempunyai pepatah "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka
selamanya." Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang
yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang
dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun
yang pernah saya lihat.
Saya kemudian diberi tahu, "Aung San di
sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen, tapi terutama karena
dia tidak percaya Yesus Kristus." Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak
pernah mati, hidup terus." Saya diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai
pepatah "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka selamanya." Saya
amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan
memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka
di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Saya
bingung karena saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud. Raja neraka
berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristen. Kamu tidak tahu dia
sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristen, kamu akan tahu siapa dia. Saya dibawa
ke sebuah tempat di mana saya lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam
mereka. Saya tanya "siapa yang memasak makanan untuk orang-orang itu?"
Raja itu menjawab "Yang miskin harus menyiapkan makanan mereka, tapi yang
kaya menyuruh yang lain untuk memasak untuk mereka." Ketika makanan sudah
tersedia untuk yang kaya, mereka duduk untuk makan. Segera setelah mereka mulai
makan asap tebal keluar. Yang kaya makan secepat sebisa mereka agar mereka tidak
pingsan. Mereka berusaha keras untuk dapat bernafas karena asap itu. Mereka
harus makan cepat-cepat karena mereka takut kehilangan uang mereka. Uang mereka
adalah tuhan mereka. Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya
juga melihat satu mahluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau api agar
tetap panas. Mahluk ini bertanya pada saya "Apa kamu juga akan masuk ke
danau api ini?" Saya jawab, "Tidak! saya di sini untuk hanya
mengamati!" Bentuk mahluk yang menjaga api itu sangat menakuntukan. Dia
punya 10 tanduk dikepalanya dan sebatang tombak di tangannya yang pada ujungnya
ada 7 pisau tajam. Mahluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini
hanya untuk mengamati. Saya tak temukan namamu disini". Katanya "Kamu
harus kembali dari mana kamu datang tadi" Dia menunjukan arah pada saya
tempat terpencil rata yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api
ini.
Keputusan Untuk Memilih Jalan Saya jalan
cukup lama, sampai saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya
setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah jalan yang lebar. Saya
berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan. Satu
jalan arah kiri, lebar. Jalan yang lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada
tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka yang tidak percaya
pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke kanan untuk yang
percaya Yesus. Saya tertarik melihat ke mana tujuan jalan yang lebih besar itu,
jadi saya mulai melaluinya. Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 yard di depan
saya. Saya coba mengejar mereka agar dapat jalan bersama, tetapi sekerasnya
saya coba tak dapat mengejar mereka, jadi saya putar balik dan kembali ke simpang
jalan tadi. Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan tadi. Waktu mereka
mencapai ujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu berteriak sangat
kesakitan. Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka
Saya sadar akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk mereka yang
menjalaninya. Melihat Surga Saya mulai melangkah ke jalan Orang Percaya.
Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah jadi emas murni. Sungguh
murni sampai-sampai waktu saya lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya
dengan sempurna. Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya. Dia
memakai jubah putih. Saya juga mendengar nyanyian merdu. Oh, alangkah indah dan
murninya! Sangat jauh lebih baik dan berarti dibandingkan penyembahan yang kita
dengar di gereja manapun di dunia. Orang berjubah tersebut meminta saya
berjalan bersamanya. Saya bertanya padanya, "Siapakah namamu?" tetapi
dia tidak menjawabnya. Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab,
"Saya yang memegang kunci ke surga.
Surga tempat yang sangat sangat indah. Kamu
tak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu
dapat pergi ke sana sesudah hidupmu selesai di bumi". Orang itu bernama
Petrus. Petrus kemudian meminta saya untuk duduk dan menunjukkan pada saya
sebuah tempat di sebelah utara. Petrus berkata, "Lihat ke utara dan
lihatlah Allah menciptakan manusia". Saya melihat Allah kekal di kejauhan.
Allah berkata pada seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia."
Malaikat itu memohon pada Allah dan berkata, "Jangan menciptakan manusia.
Dia akan berbuat dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma
berarti: "Dia akan mempermalukan Engkau") Tetapi Allah tetap
menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya dan manusia itu hidup. Dia
memberi nama orang itu "Adam". (catatan: agama Budha tidak percaya
penciptaan dunia atau manusia sehingga pengalaman ini sangat besar pengaruhnya
pada rahib itu). Dikembalikan Dengan Nama Baru Kemudian Petrus berkata, "Sekarang
bangunlah dan kembalilah melalui jalan di mana engkau datang. Katakan pada
orang-orang yang menyembah Budha dan menyembah berhala. Beri tahu mereka bahwa
mereka akan pergi ke neraka bila mereka tidak berubah. Mereka yang membangun
kuil/kelenteng dan berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan
persembahan pada para rahib untuk mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan
ke neraka. Mereka yang menyembah rahib dan memanggil mereka "Pra"
(gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang menyanyi dan
memberikan hidupnya untuk berhala akan ke neraka. Mereka yang tidak percaya
Yesus Kristus akan ke neraka. Petrus memberi tahu saya untuk kembali ke bumi
dan bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat. Dia juga berkata, 'Kamu
harus bicara dengan nama yang baru. Sejak saat ini kamu harus dipanggil Athet
Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup). Saya tidak mau kembali. Saya ingin
tinggal di surga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama
mereka mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tak
menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk
agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya), tapi juga tidak tertulis disitu.
Kemudian Petrus berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus
kembali dan bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang beragama Budha."
Saya berjalan kembali melalui jalan emas.
Saya dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tak pernah saya dengar sebelumnya.
Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi. Dia menunjukkan
pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara surga dan langit. Tangga itu
tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara. Pada saat di tangga saya lihat
banyak sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka
sangat sibuk. Saya tanya Petrus, "Siapakah mereka?". Peter menjawab,
"Mereka pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke surga nama-nama mereka yang
percaya Yesus Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya." Peter
kemudian memberi tahu saya, sudah waktunya untuk kembali.
Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan.
Saya dengar ibu saya sedang menangis, "Anakku, mengapa engkau meninggalkan
kami sekarang?" Saya juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya
kemudian sadar saya sedang terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak. Ibu
dan ayahku berteriak, "Dia hidup, dia hidup!" Orang lain yang agak
jauh tidak percaya. Kemudian saya taruh tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk
tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari
secepat kaki mereka membawanya. Mereka yang tertinggal, diam dan bergemetaran.
Saya merasakan saya sedang duduk dalam cairan yang tak sedap baunya, cairan tubuh,
cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5 gelas. Itu adalah cairan yang keluar dari
perut dan bagian dalam tubuhku ketika tubuhku terbujur di dalam peti mati.
Inilah sebabnya orang tahu bahwa saya sudah betul-betul mati. Di dalam peti
mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditempelkan pada kayu peti. Lembaran
plastik ini untuk menampung cairan yang keluar dari mayat, karena tubuh orang meninggal
banyak mengeluarkan cairan seperti yang saya alami. Saya diberi tahu kemudian
bahwa hanya beberapa saat lagi saya dikremasi dalam api.
Di Myanmar orang mati dimasukan kedalam peti mati,
tutupnya kemudian dipaku, dan kemudian dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu
dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup
peti akan segera dipaku dan saya akan dikremasikan. Saya segera mulai menjelaskan
hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa heran. Saya ceritakan orang-orang
yang saya lihat di dalam danau api itu, dan memberi tahu hanya orang Kristen yang
tahu kebenaran, bahwa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun!
Saya beri tahu mereka segala sesuatu yang kita percayai adalah kebohongan.
Orang-orang merasa heran sebab mereka tahu rahib macam apa saya dan bagaimana bersemangatnya
saya dalam pengajaran Budha. Di Myanmar ketika seseorang meninggal, namanya dan
umurnya ditulis disamping peti mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya
dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah
ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup!
---------------------------------------------------------------------------------
(Penutup)
Sejak "Paul yang kembali hidup" mengalami kisah di atas
dia tetap menjadi saksi yang setia kepada Yesus Kristus. Para Gembala di Burma
mengabarkan bahwa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada
Yesus. Kesaksiannya jelas sekali tak berkompromi. Oleh sebab itu, pesan dia
telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan
ke surga, Yesus Kristus. Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar,
pengalamannya sungguh nyata sehingga ia pernah ragu maupun bimbang. Setelah
sekian tahun dalam lingkungan biara Budha, sebagai pengikut ajaran Budha yang
setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya dari mati dan
mendesak rahib yang lain untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi
pengikut Yesus dengan sepenuh hati. Sebelum sakit dan matinya dia tidak punya
pengetahuan sedikitpun tentang ke-Kristenan. Semua yang dia dapatkan selama 3
hari dalam kematian adalah baru dalam fikirannya. Dalam mengabarkan pesannya
sebanyak mungkin pada orang-orang. Lazarus modern ini mulai membagikan audio
dan video kaset mengenai kisahnya. Polisi serta pihak berwenang di Myanmar
sudah berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan kaset-kaset ini dan memusnahkannya.
Kesaksian yang baru saja anda baca adalah salah satu terjemahan dari kaset itu.
Kami diberi tahu bahwa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk
memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tak kenal takut telah membuatnya
dipenjara, di mana yang
berwenang telah gagal menawarkan dia untuk bungkam. Sesudah
dilepaskan dia terus bersaksi tentang apa yang dia lihat dan dengar.
Keberadaannya sekarang tidak jelas. Seorang nara sumber di Burma mengatakan
bahwa dia di penjara dan bahkan mungkin sudah dibunuh, sumber lain mengabarkan
bahwa dia sudah dilepaskan dari penjara dan sedang meneruskan pelayanannya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar