Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak
manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya,
atau berbicara dan tidak menepatinya?
(Bilangan 23:19)
Arti sebenaranya dari KONTEKS ayat diatas adalah Allah
bukanlah pendusta dan tidak menyesal. Pemenggalan Silogisme yang salah akan
menyebabkan perbedaan arti.
Contoh konteks ayat diatas adalah seperti berikut :
1.
Kucing identik dengan Mencuri
Contoh : Saya bukanlah kucing sehingga saya mencuri ikan
diatas meja makan
-
Artinya yang benar : SAYA BUKANLAH PENCURI
-
Artinya yang keliru : SAYA BUKANLAH KUCING
2.
Ikan Piranha identik dengan kerakusan
Contoh : Saya bukanlah ikan piranha yang rakus
-
Artinya yang benar : SAYA TIDAK RAKUS
-
Artinya yang keliru : SAYA BUKANLAH PIRANHA
Jadi konteks ayat diatas adalah MANUSIA IDENTIK DENGAN DUSTA dan mudah
menyesal Perhatikan ayat berikut :
-
Aku ini berkata dalam kebingunganku: "Semua manusia
pembohong." (Mazmur 116:11)
-
Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;
lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong. (Amsal 19:22)
-
Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua
manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar
dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi." (Roma 3:4)
Jadi maksud dari Bilangan
23:19 adalah :
ALLAH BUKANLAH PENDUSTA DAN ALLAH TIDAK MUDAH MENYESAL
Arti yang keliru : ALLAH BUKANLAH MANUSIA
Pertanyaan lanjutan kalau Allah menjadi manusia berarti Dia
pendusta juga donk?
Inilah yang membedakan Yesus dari manusia pada umumnya kitab
suci mencatat HANYA YESUS MANUSIA YANG
TIDAK BERDOSA :
-
Dia [Yesus]
yang adalah suciI (1 Yohanes 3:3b)

jadi yesus bukan manusia?
BalasHapusYesus Adalah Allah yg mnjdi manusia. Klo bljar Alkitab klo kita gk paham konteksx bakal keliru sprti Alkitab itu bhong
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus